ALAT UKUR LISTRIK
1. Galvanometer
1.1.
Pengertian Galvanometer
Galvanometer
adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda
potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk
mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena
komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung.
Galvanometer bisa digunakan untuk
mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada
galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut
hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt) (Anonim,2011).
1.2. Sejarah Galvanometer
Sejarah galvanometer dapat
ditelusuri kembali pada tahun 1820,
ketika fisikawan Denmark- Hans Christian Oersted mencatat bahwa jarum magnetik
akan dibelokkan ketika mengalami kontak dengan arus listrik. Ketika sebuah arus
listrik yang lewat melalui konduktor, maka jarum magnetis cenderung berbelok ke
kanan di sudut menuju konduktor,
sehingga dengan arah yang paralel dengan baris induksi sekitar konduktor dan
utara tiang poin dalam arah yang ini baris
induksi mengalir. Secara umum, sejauh mana jarum
bergerak adalah bergantung pada kekuatan
yang sekarang. Dalam galvanometers pertama, jarum
magnetis yang berputar bebas
adalah hung dalam lilitan dari kawat. Pengamatan oleh Oersted kemudian menjadi
prinsip dasar dari kerja sebuah galvanometer. Pada tahun yang sama, fisikawan
Jerman – Johann Schweigger bekerja dengan prinsip ini, dan dengan kemunculan
galvanometer pertama. Hak untuk penemuan galvanometer bergerak-kumparan
pertama, yang banyak digunakan saat ini, jatuh pada fisikawan Prancis – Jacques
Arsene D’Arsonval. Beberapa tahun kemudian, Edward Weston cukup membuat
beberapa perubahan untuk desain ini, dan melakukan improvisasi.” (Doni,
2014).
1.3.
Jenis Galvanometer
Menurut (Cooper,1985) ada 2 jenis
galvanometer yaitu:
a. Galvanometer Balistik
Untuk
mengukur fluksi maknit digunakan galvanometer balistik, dimana galvanometer ini
bekerja menggunakan prinsip d’ Arsonval dan dirancang khusus untuk pemakaian selama
20 – 30 sekon dengan kepekaan tinggi. Pada pengukuran balistik ini, kumparan
menerima suatu impuls arus sesaat, mengakibatkan kumparan berayun ke satu sisi
dan kemudian kembali berhenti dalam gerakan berosilasi. Jika impuls arus
berlangsung singkat, maka defleksi mula-mula dari posisi berhenti berbanding
lurus dengan kuantitas pengosongan muatan listrik melalui kumparan. Nilai
relatif impuls arus yang diukur dalam defleksi sudut mula-mula dari kumparan
adalah :
Q
= K θ
Dimana:
Q
= muatan listrik ( coulomb )
K
= kepekaan galvanometer ( coulomb / radian defleksi )
θ
= defleksi sudut kumparan ( radian )
Harga
kepekaan galvanometer ( K ), dipengaruhi oleh redaman dan besarnya diperoleh
secara eksperimental, melalui pemeriksaan kalibrasi pada kondisi pemakaian yang
nyata.
Untuk
mengkalibrasi galvanometer, digunakan beberapa metoda, yaitu :
1.
metoda kapasitor
2.
metoda solenoid
3.
metoda induktansi bersama.
Adapun
prinsip pengukuran galvanometer balistik, antara lain: Jika maknit permanen
dilepas dengan cepat dari kumparan, maka akan dihasilkan suatu impuls arus yang
menyebabkan galvanometer menyimpang.
b. Galvanometer
Suspensi ( Suspension
Galvanometer )
Pengukuran-pengukuran
arus searah sebelumnya menggunakan galvanometer sistem gantungan, yang
merupakan pelopor instrumen kumparan putar, sebagai dasar pada umumnya
instrumen penunjuk arus searah yang dipakai secara luas saat ini. Dengan
beberapa penyempurnaan, Galvanometer suspensi masih digunakan untuk
pengukuran-pengukuran laboratorium sensitivitas tinggi tertentu, jika keindahan
instrumen bukan merupakan masalah dan portabilitas bukan menjadi prioritas
1.4. Fungsi Galvanometer
Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk
mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer
tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik
yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung
.Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial
listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal
(pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut
hambatan shunt). Galvanometer alat yang
digunakan untuk menentukan keberadaan, arah, dan kekuatan dari sebuah arus
listrik dalam sebuah konduktor.
1.5. Modifikasi galvanometer
Alat
Pendeteksi Kebohongan adalah alat yang digunakan untuk mengukur kebohongan melalui
tingkat emosi seseorang. Kebohongan seseorang dapat terdeteksi melalui tingkat
emosinya yang terlihat melalui pengukuran pada laju pernafasan, tekanan darah,
frekuensi denyut nadi dan respon pada kulit. Di China, dahulu terdapat sebuah
metode sederhana untuk mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak.
Seorang yang di tes kebohongannya dipaksa untuk mengunyah tepung beras dan
memuntahkannya. Bila tepung beras keluar dalam keadaan kering, maka orang
tersebut dianggap berbohong. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa orang-orang yang
berkata jujur dan bohong memiliki respon fisiologis yang berbeda. Penurunan
produksi air liur diinterpretasikan sebagai hasil dari ketakutan karena
berbohong.
Sejarah
Penemuan Alat Pendeteksi Kebohongan
Penemuan
alat pendeteksi kebohongan berawal dari Amerika Serikat. Alat pendeteksi
kebohongan juga dikenal dengan nama mesin polygraph. Mesin polygraph ditemukan
pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902. Mesin polygraph adalah suatu
instrumen yang secara bersamaan mencatat perubahan proses fisiologis seperti
detak jantung dan tekanan darah.
Pada
tahun 1921, John Larson menciptakan alat pendeteksi kebohongan yang lebih
modern. John Larson meneliti berbagai instrumen yang tersedia serta
metodologinya, Larson lantas memilih sphygmomanometer erlanger.
Sphygmomanometer erlanger ialah alat untuk mengukur tekanan darah yang bekerja
secara manual saat memompa dan mengurangi tekanan darah pada manset, seperti
alat pengukur tekanan darah dalam medis. Sphygmomanometer erlanger dapat diubah
untuk menghasilkan rekaman permanen dari tekanan darah dengan cara menggunakan
kymograph. Kymograph ialah alat untuk mencatat atau melukiskan variasi tekanan
atau gerakan, misalnya gerak gelombang denyut nadi dan tekanan darah.
Pada
tahun 1924 Leonarde Keeler membuat instrumen alat pendeteksi kebohongan yang
disebut dengan Emotograph. Emotograph adalah cara penanda yang secara otomatis
menangkap data dan informasi yang memiliki sensor pada tubuh untuk mengukur
denyut nadi, kulit, suhu dan konduktivitas listrik. Leonarde menggunakan papan
tempat pemotong roti sebagai dasar untuk instrumen dan yang dikenal
sebagai polygraph papan pemotong roti. Instrument Leonarde Keeler
tersebut diberikan kepada John Larson untuk digunakan di kepolisian Berkeley.
Hasil
penemuan Leonarde Keeler tersebut dimodifikasi oleh Chester W. Darrow dari
Institute for Juvenile Research membuat modifikasi yang bernama Cardio Pneumo
Psikografi, dengan menambahkan sebuah galvanometer. Galvanometer adalah alat
pengukur kuat arus yang sangat lemah untuk menentukan keberadaan arah dan
kekuatan dari sebuah arus listrik dalam sebuah konduktor.
Macam
Macam Sensor Pada Alat Pendeteksi Kebohongan :
1.
Sensor Laju Pernapasan :
Berwujud
tabung karet yang berisi udara dan diikatkan mengelilingi area perut atau dada.
Ketika dada atau otot-otot perut mengembang untuk mengambil udara, udara di dalam
tabung dipindahkan dalam bentuk grafik pada layar.
2.
Sensor Tekanan Darah
Sebuah
alat pengukur tekanan darah ditempatkan sekitar lengan. Alat ini mencatat
perubahan-perubahan dalam tekanan darah dan dengan sebuah alat data tersebut
dikirim dan dimunculkan dalam grafik.
Galvanic
Skin Resistance
Alat ini digunakan untuk mengukur aktivitas elektro-dermal dan
pada dasarnya adalah pengukur dari keringat di ujung jari anda. Ujung jari
adalah salah satu daerah yang paling berpori pada tubuh dan indikasinya adalah
jika kita berkeringat maka kita sedang dalam tekanan dan alami muncul di saat
berbohong. Sebuah galvanometer akan dipasangkan pada dua ujung jari subjek
pemeriksaan. Sensor ini akan mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan
listrik. Ketika kulit terhidrasi (seperti dalam keadaan berkeringat), kulit
dapat menghantarkan listrik jauh lebih mudah dibandingkan pada saat kulit
kering dan semua data data ini tercatat pula di grafik.
Lie detector -
Galvanic Skin Resistance
Cara
Kerja Alat Pendeteksi Kebohongan
Alat
pendeteksi kebohongan pada dasarnya terdiri dari alat-alat medis yang digunakan
untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. Seseorang akan ditanya
tentang suatu peristiwa atau kejadian tertentu, sedangkan para pemeriksa akan
melihat bagaimana perubahan detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan
aktivitas elektro-dermal (keringat dari jari-jari tangan) yang dibandingkan
dengan keadaan normal.

Kurva
pada alat pendeteksi kebohongan
Perubahan
pada parameter-parameter tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut sedang
berbohong. Alat pendeteksi kebohongan akan menunjukan kebohongan pada sistem
dalam bentuk gelombang. Bila seseorang sedang berbohong maka gelombang akan
bergetar dengan cepat. Sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang akan
bergetar secara perlahan atau bahkan tidak bergetar.
Saat
seseorang sedang dites menggunakan alat pendeteksi kebohongan, maka orang
tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah
gambar grafik yang menunjukkan hasil-hasil dari pertanyaan yang diajukan.
Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan di
atas. Kadang-kadang alat pendeteksi kebohongan juga akan mencatat hal-hal
seperti gerakan lengan dan kaki.
Ketika
tes dengan alat pendeteksi kebohongan dimulai, sang penanya akan memberi 3
sampai 4 pertanyaan yang mudah dan sederhana dengan jawaban yang diketahui
sebagai permulaan. Setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian
indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah
seismograph pada pencatat bencana alam gempa bumi.
1.6. Bagian-Bagian Galvanometer
Sebuah
maknet permanen berbentuk sepatu kuda dengan potongan-potongan besi lunak
menempel padanya.
1) Antara potongan-potongan
tersebut, terdapat sebuah silinder besi lunak yang berfungsi untuk menghasilkan
medan maknet yang homogen.
2) Kumparan yang dililitkan
pada sebuah kerangka logam ringan dan dipasang sedemikian rupa hingga dapat
berputar bebas di celah udara.
3) Jarum penunjuk dipasang
dibagian atas kumparan, bergerak sepanjang skala yang sudah dibagi-bagi dan
menunjukkan defleksi sudut kumparan yang berarti juga menunjukkan arus melalui
kumparan.
4) Bentuk “ Y “ adalah
pengatur nol ( zero adjust ) dan dihubungkan ke ujung tetap pegas
pengatur depan.
5) Sebuah pasak eksentrik (
pin ) yang menembus kotak instrumen yang memegang bagian “ Y “, sehingga posisi
“ nol “ jarum dapat diatur dari luar.
6) Dua pegas konduktif dari
fosfor-perunggu biasanya berkekuatan sama, yang menghasilkan gaya terkalibrasi
untuk melawan torsi kumparan putar dan prestasi pegas yang konstan dibutuhkan
untuk mempertahankan ketelitian instrumen.
7) Ketebalan pegas
diperiksa secara teliti untuk mencegah kondisi pegas yang permanen ( eksitasinya
hilang ). Arus dialirkan dari dan ke kumparan melalui pegas-pegas penghantar.
8) Keseluruhan sistem yang berputar dibuat
setimbang statis oleh tiga buah beban kesetimbangan untuk semua posisi
defleksi, seperti ditunjukkan pada gambar
9) Jarum, pegas dan titik
putar ( pivot ) dirakit ke peralatan kumparan dengan menggunakan alas titik
putar dan ditopang oleh bantalan jewel ( jewel bearing ), seperti ditunjukkan
pada gambar 8. Jewel berbentuk “ V “ ditunjukkan pada gambar 8 a digunakan
secara umum pada bantalan-bantalan instrumen dan mempunyai gesekan paling kecil
diantara semua bantalan
2.
MULTITESTER
2.1. Pengertian
Multitester
Multitester adalah alat
pengukur listrik yang juga sering disebut sebagai VOM (Volt-Ohm Meter).Pada
kehidupan sehari-hari multitester dapat digunakan untuk mengukur tegangan (Volt
meter), hambatan (Ohm meter) maupun arus (Ampere meter). Multitester ada 2
jenis yaitu multitester analog dan digital. Multitester analog menggunakan
peraga jarum moving coil dan besaran ukur berdasarkan arus (elektronis dan non
elektronis). Sedangkan multitester digital menggunakan peraga bilangan digital
dan besaran ukur berdasarkan tegangan yang dikonversi ke sinyal digital.
Spesifikasi Multitester
a. Batas
Ukur dan Skala Tegangan searah (DC&AC), arus (DC), dan resistensi
b. Sensitivitas
pengukuran tegangan
c. sensitivitas
pengukuran tegangan dalam ΩΩ/V/V
d. ketelitian
dalam %
e. angkauan
frekuensi tegangan bolak bolak-balik
f. yang
mampu diukur (misalnya antara 20 Hz -30 KHz)
g. batere
yang diperlukan (Choinisah, 2013).
2.2. Sejarah Multitester
Pengenalan pertama multimeter menjadi
alat uji utama untuk semua insinyur listrik dan radio, membuatnya menjadi
instrumen terbaik dari jenisnya di Inggris dari tahun 1923 sampai setidaknya
tahun 1960. Karena mudah dibawa kemana-mana, memungkinkan pengukuran di tempat
yang jauh dari laboratorium dengan akurasi yang menjadi norma bagi semua
insinyur tapi diadopsi di fasilitas penelitian untuk setiap hari kerja karena
memiliki fitur, ukuran yang ringkas.
Sebelumnya, instrumen ini masing-masing fungsinya memerlukan peralatan
yang kompleks dan terpisah dimana tidak dapat terpisah dengan laboratorium.
Ringkasnya, terdapat standar yang baru yang dapat dikontrol dan memiliki
beragam perangkat modern yang berjalan pada tahun 1970-an dan seterusnya.
Banyak insinyur masih memilikinya dan masih memanfaatkannya. Multimeter
memainkan peran besar dalam keberhasilan teknologi bergantung pada akurasi dan
dapat diandalkan dalam lingkungan apapun(Anonim,2011)
2.3. Jenis Multitester
Menurut (Renald, 2012) jenis multitester ada dua yaitu:
a.
Multitester Analog
Multimeter analog lebih banyak dipakai untuk kegunaan sehari-hari, seperti para
tukang servis TV atau komputer kebanyakan menggunakan jenis yang analog ini.
Kelebihannya adalah mudah dalam pembacaannya dengantampilan yang lebih simple.
Sedangkan kekurangannya adalah akurasinya rendah, jadi untuk pengukuran yang
memerlukan ketelitian tinggi sebaiknya menggunakan multimeter digital.
b.
Multitester Digital
Multimeter digital memiliki
akurasi yang tinggi, dan kegunaan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan
multimeter analog. Yaitu memiliki tambahan-tambahan satuan yang lebih teliti,
dan juga opsi pengukuran yang lebih banyak, tidak terbatas pada ampere, volt,
dan ohm saja. Multimeter digital biasanya dipakai pada penelitian atau
kerja-kerja mengukur yang memerlukan kecermatan tinggi, tetapi sekarang ini
banyak juga bengkel-bengkel komputer dan service center yang memakai multimeter
digital.
Kekurangannya adalah
susah untuk memonitor tegangan yang tidak stabil. Jadi bila melakukan
pengukuran tegangan yang bergerak naik-turun, sebaiknya menggunakan multimeter
analog.
2.4. Fungsi
Multitester
Menurut (Choinisah, 2013) fungsi multitester yaitu:
a.
Alat ukur arus searah
Ammeter arus searah (DC ammeter)
dipergunakan untuk mengukur arus searah. Alat ukur ini dapat berupa
amperemeter, milliamperemeter dan galvanometer. Dalam mempergunakan ammeter
arus searah perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
1) Ammeter
tidak boleh dipasang sejajar (paralel) dengan sumber daya
2) Ammeter
harus dipasang seri dengan rangkaian yang diukur arusnya
3) Polaritas
(tanda + dan -)
b.
Alat ukur
tegangan searah
Suatu alat ukur tegangan searah umumnya
terdiri dari: meter dasar (Amperemeter) dan rangkaian tambahan untuk memperoleh
hubungan antara tegangan searah yang diukur dengan arus searah yang mengalir
melalui meter dasar. Meter dasar merupakan suatu alat yang bekerja (merupakan
stator), dan suatu kumparan yang akan dilalui arus yang bebas bergerak dalam
medan magnet tetap tersebut.
c.
Alat ukur tegangan bolak-balik
Pada dasarnya voltmeter bolak-balik
terdiri dari: rangkaian penyearah, meter dasar (misalnya µA-meter searah) dan
resistor seri.
d. Alat
ukur resistansi
Secara umum suatu rangkaian ohmmeter
terdiri dari meter dasar berupa miliammeter/mikroammeter arus searah, beberapa
buah resistor dan potensiometer serta suatu sumber tegangan searah/batere. Kita
mengenal dua macam ohmmeter, yaitu ohmmeter seri dan ohmmeter paralel.
rangkaian
dasar ohmmeter
Multimeter dapat juga dipergunakan untuk
mengukurbesaran-besaran (atau sifat-sifat komponen) secara tidak langsung).
Beberapa
contoh diantaranya adalah:
a. mengukur
polaritas dan baik buruknya dioda secara sederhana
b. mengetahui
baik buruknya transistor secara sederhana
c. mengukur
kapasitansi
d. mengukur
induktansi
Fungsi multimeter dengan kategori Digital Multimeter adalah sebagai
berikut :
1. Menguji
dioda dengan tujuan untuk mendeteksi tingkat kerusakan akibat suatu hal yang
tidak kita ketahui
2. Menguji
kondensator
3. Menguji
transformator
4. Mengukur
tegangan DC
5. Mengukur
arus DC
6. Mengukur tegangan
AC
7. Pengecekan
hubungan singkat
8. Menguji
transistor PNP
9. Menguji
kapasitor elektrolit
10. Pengukur
resistansi pada multimeter
11. Penguji
transistor NPN
Dan yang terakhir adalah Fungsi Multimeter Analog,
multimeter jenis ini sangat mirip dengan digital multimeter, multimeter jenis
ini biasa digunakan oleh kita pada umumnya karena lebih mudah membacanya karena
memang multimeter jenis ini termasuk multimeter yang lebih simpel dan mudah.
Tetapi bagi anda yang ingin meneliti sesuatu secara mendetail, disarankan menggunakan
Digital Multimeter.
2.5. Modifikasi Multitester
Digital multimeter circuit diagram modifikasi digital multimeter circuit
diagram biasanya
banyak Sekali kita temukan diacara balap motor yang banyak
diselenggrakan di Indonesia. diacara balap motor drag tersebut biasanya motor yang ikut dan alam kompetisi adalah motor-motor yg memang
sudah dimodifikasi sehingga motor yang biasanya masih standar akan menjadimotor yang seakan
tinggal tulangan motor Itu Saja. Selain itu jugabiasanya keepatan mesin motor yang standar akanberubah menjadi sangat cepat yang telah
disetel oleh bengkel yang memang
menangani motor itu sebelum mengikuti kontes balap.
Blue Point Multimeter Manual adalah salah satu dari beberapa contoh foto/gambar
modifikasi dari topik yang telah kita bahas sebelumnya pada Modifikasi Kawasaki
Kaze R yang terdapat pada situs termodifikasi.net.
Termodifikasi.net adalah salah satu situs dari ratusan situs yang menyajikan
berbagai contoh gaya modif kuda besi. Memperlihatkan berbagai foto dan gambar
Blue Point Multimeter hasil modif motor dengan berbagai varian yang berbeda,
sesuai aliran terbaru saat ini tahun 2015. Sobat bikers dapat dengan jelas
melihat-lihat modifikasi Blue Point Multimeter Manual yang lain. koleksi
gambar, foto, desain baru dan konsep gaya modifikasi motor baru yang inspiratif
kami harap dapat membantu sobat bikers dalam memodif motor.
Selain
gambar Blue Point Multimeter Manual, kamu juga dapat melihat koleksi gambar
kami lainnya yang berhubungan dengan Blue Point Multimeter Manual. Kamu dapat
dengan mudah meng klik pada gambar atau foto selain Blue Point Multimeter
yang tersedia di bawah ini, atau kamu juga dapat dengan gampang kembali ke
artikel bahasan sebelumnya Modifikasi Kawasaki Kaze R untuk mencari ide atau inspirasi baru lainnya. Kami harap
gambar/ foto yang kami sediakan berikut bermanfaat dan dapat membantu kamu
mendapatkan inspirasi baru terkait Blue Point Multimeter Manual untuk
modifikasi motor kamu.
2.6. Bagian-Bagian Alat Multitester
Bagian
Multimeter

a. Papan Skala :
digunakan untuk membaca hasil pengukuran. Pada papan skala terdapat
skala-skala; tahanan/resistan (resistance) dalam satuan Ohm (Ω),
tegangan (ACV dan DCV), kuat arus (DCmA), dan skala-skala lainnya.
b. Saklar Jangkauan Ukur : digunakan untuk menentukan posisi kerja multimeter , dan batas ukur (range). Jika digunakan
untuk mengukur nilai satuan tahanan (dalam W), saklar ditempatkan pada posisi
W, demikian juga jika digunakan untuk mengukur tegangan (ACV-DCV), dan kuat
arus (mA-mA). Satu hal yang perlu diingat, dalam mengukur tegangan listrik,
posisi saklar harus berada pada batas ukur yang lebih tinggi dari tegangan yang
akan diukur. Misal, tegangan yang akan diukur 220 ACV, saklar harus berada pada
posisi batas ukur 250 ACV. Demikian juga jika hendak mengukur DCV.
c. Sekrup Pengatur Posisi Jarum (preset) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka
nol (sebelah kiri papan skala).
d. Tombol Pengatur Jarum Pada Posisi Nol (Zero
Adjustment) : digunakan untuk
menera jarum penunjuk pada angka nol sebelum multimeter digunakan untuk mengukur nilai
tahanan/resistan. Dalam praktek, kedua ujung kabel penyidik (probes)
dipertemukan, tombol diputar untuk memosisikan jarum pada angka nol.
e. Lubang Kabel Penyidik : tempat untuk menghubungkan kabel penyidik dengan
Multimeter. Ditandai dengan tanda (+) atau out dan (-) atau common.
Pada multimeter yang lebih lengkap terdapat juga lubang untuk
mengukur hfe transistor (penguatan arus searah/DCmA oleh transistor
berdasarkan fungsi dan jenisnya), dan lubang untuk mengukur kapasitas
kapasitor.
f. Posisi
ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai
voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
g. Posisi
DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai
voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
h. Posisi
DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi
sebagai mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan
500.
i.
Terminal, berfungsi sebagai W(9) Lubang kutub + (V A tempat
masuknya test lead kutub + yang berwarna merah.
j.
Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead
kutub – yang berwarna hitam.
k. Saklar
pemilih polaritas
(Polarity Selector Switch), berfungsi untuk memilih polaritas DC atau AC.
l.
Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-komponen
multimeter.
m. Jarum
penunjuk meter (Knife – edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk besaran yang diukur.
n. Skala
(Scale), berfungsi sebagai
skala pembacaan meter.
2. OSILOSKOP
3.1. Pengertian Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur Elektronik yang
dapat memetakan atau memproyeksikan sinyal listrik dan frekuensi menjadi gambar
grafik agar dapat dibaca dan mudah dipelajari. Dengan menggunakan Osiloskop,
kita dapat mengamati dan menganalisa bentuk gelombang dari sinyal listrik atau
frekuensi dalam suatu rangkaian Elektronika. Pada umumnya osiloskop dapat
menampilkan grafik Dua Dimensi (2D) dengan waktu pada sumbu X dan tegangan pada
sumbu Y(Faiks,2014).
3.2. Sejarah Osiloskop
Karl
Ferdinand Braun (Fulda, 6 Juni 1850 – New York, 20 April 1918) adalah seorang
fisikawan Jerman. Braun belajar di Universitas Marburg dan menerima gelar di
Universitas Berlin pada tahun 1872. Ia menjadi direktur di Lembaga Fisika dan
profesor fisika di Strasbourg (1895). Pada tahun 1897, ia membuat oskiloskop
tabung sinar katoda pertama. Teknik ini digunakan oleh sebagian besar peralatan
TV dan monitor komputer. Tabung katode masih disebut “tabung Braun”
(Braunsche Röhre) di negara penutur bahasa Jerman (dan di Jepang: Buraun-kan).
Pada tahun 1909 Braun menerima Penghargaan Nobel dalam Fisika dengan Guglielmo
Marconi untuk “sumbangan pada pengembangan telegrafi nirkabel.” Pada awal Perang
Dunia I Braun pindah ke Amerika Serikat untuk mempertahankan stasiun nirkabel
Jerman yang terletak di Sayville (Long Island) terhadap serangan oleh Marconi
Corporation yang dikendalikan Inggris (saat itu AS belum terjun dalam perang).
Braun meninggal di rumahnya di Brooklyn sebelum perang berakhir, pada tahun
1918 (Rilo, 2014).
3.3. Jenis Osiloskop
Menurut (Fery,2015)
berdasarkan jenisnya osiloskop di bagi menjadi 2 yaitu:
a. Osiloskop
Analog
Osiloskop tipe waktu nyata analog (ART) menggambar
bentuk-bentuk gelombang listrik dengan melalui gerakan pancaran electron
(electron beam) dalam sebuah tabung sinar katoda (CRT – Cathode Ray Tube) dari
kiri ke kanan. Pancaran electron dari bagian senapan electron (electron gun)
yang membentur atau menumbuk dinding dalam tabung tersebut Mengeksitasi
electron dalam lapisan fosfor pada layar tabung mengeksitasi electron dalam
lapisan fosfor pada layar tabung sehingga terjadi perpendaran atau nyala pada
layar yang menggambarkan bentuk dasar gelombang. Dalam perjalanannya dari
senapan electron menuju layar yang berfosfor tadi, electron-elektron
dipengaruhi oleh medan listrik dalam arah vertical (ke atas maupun ke bawah)
oleh sepasang pelat pembelok (defleksi) vertical dan dalam arah horizontal oleh
sepasang pelat defleksi horizontal. Apabila tegangan pada semua pelat tersebut
nol Volt, electron akan berjalan lurus membentuk layar sehingga hanya terlihat
sebuah bintik nyala di ditengah layar saja. Untuk “membuat” gambar garis pada
layar, diperlukan gelombang gigi gergaji yang diberikan kepada pasangan pelat
horizontal tersebut. Tegangan gigi gergaji ini dihasilkan oleh time base
generator/sweep generator atau generator sapu, yang kemudian diperkuat oleh
penguat horizontal. Tegangan gigi gergaji ini naik secara linier terhadap waktu
sehingga berkas electron pada layar bergerak dari kiri ke kanan. Setelah sampai
di bagian paling kanan layar, tegangan gigi gergaji turun dengan cepat ke nol
sehingga memulai gerakan berulang dari bagian kiri layar. Gerakan balik yang
cepat ini tidak dapat ditangkap oleh mata sehingga yang terlihat adalah gambar
garis horizontal lurus pada layar yang tidak terputus. Agar osiloskop dapat
menggambarkan bentuk gelombang yang sedang diamati maka gelombang tersebut
diumpankan ke rangkaian vertical. Rangkaian vertical ini berfungsi memperkuat
atau melemahkan simpangan vertical dari gelombang masukan, sehingga tegangan
yan g diberikan ke pasangan pelat defleksi vertical menghasilkan medan listrik yang
dapat mempengaruhi gerakan vertical electron secara proposional selagi ia
bergerak menuju ke layar, yang berakibat bentuk gelombang pada layar dapat
diperbesar atau diperkecil. Karena arah gerak electron berdasar vector medan
listrik horizontal dan vertical, CRT nya disebut direcdt viev vector CRT.
Agar gambar pada layar dapat stabil, digunakan
rangkaian picu (trigger). Jika suatu gelombang listrik dihubungkan ke ART,
rangkaian picu akan memonitor gelombang masukan tersebut dan menunggu event –
yakni saat terjadinya peristiwa atau kondisi yang dapat dipakai untuk pemicuan.
Event picu ini berupa suatu sisi atau tebing gelombang yang memenuhi
persyaratan yang telah didefinisikan atau ditentukan melalui suatu pilihan
tombol pada panel depan osiloskop. Sekali event picu ini terjadi, osiloskop
akan menstart generator sapu dan meragakan bentuk gelombang yang sedang diukur.
Proses ini akan berulang sepanjang osiloskop tersebut dapat mendeteksi
event-event picu. Selain menyangkut vertical dan horizontal, osiloskop analog
mempunyai dimensi ketiga yang disebut dengan gray scaling (skala/tingkatan atau
intensitas kelabu). Tingkatan kelabu ini diciptakan intensitas pancaran
electron pada tabung gambar, yang meragakan detil gambar bagian tertentu secara
sekilas saja. Kondisi ini terjadi karena kecepatan pancaran electron
mempengaruhi kecerahan jejaknya. Makin cepat pancaran bergerak dari satu titik
ke titik yang lain pada bagian tertentu, makin sedikit waktu ia dapat
mengeksitasi electron-elektron pada fosfor yang terdapat pada dinding layar.
Akibatnya jejak yang membentuk gambar gelombang abgian tersebut akan lebih
redup daripada gambar bagian gelombang yang lainnya. .
Skala kelabu ini juga menunjukan frekuensi relative dari event-event individual (gejala khusus) yang terjadi dalam suatu gelombang yang sifatnya berulang (repetitif). Pancaran electron yang menggambarkan bagian gelombang yang bentuknya sama secara berulang akan menyebabkan bagian yang dapat tergambar dengan terang di layar, sedangkan event lekuk gelombang yang jarang terjadi akan mendapat lebih sedikit waktu eksitasi. Akhirnya menjadi jelas bahwa daerah dari lapisan fosfor yang dirangsang/dieksitasi secara berulang Nampak lebih terang daripada daerah yang kurang distimulasi.
Skala kelabu ini juga menunjukan frekuensi relative dari event-event individual (gejala khusus) yang terjadi dalam suatu gelombang yang sifatnya berulang (repetitif). Pancaran electron yang menggambarkan bagian gelombang yang bentuknya sama secara berulang akan menyebabkan bagian yang dapat tergambar dengan terang di layar, sedangkan event lekuk gelombang yang jarang terjadi akan mendapat lebih sedikit waktu eksitasi. Akhirnya menjadi jelas bahwa daerah dari lapisan fosfor yang dirangsang/dieksitasi secara berulang Nampak lebih terang daripada daerah yang kurang distimulasi.
b. Osiloskop
Digital.
Jika
dalam osiloskop analog gelombang yang akan ditampilkan langsung diberikan ke
rangkaian vertikal sehingga berkesan “diambil” begitu saja (real time), maka
dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih dulu disampling
(dicuplik) dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai
tegangan ini bersama sama dengan skala waktu gelombangnya di memori. Pada
prinsipnya, osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian banyak
nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai
dihentikan. .
DSO mempunyai dua cara untuk menangkap atau mencuplik gelombang, yakni dengan teknik single shot atau real time sampling. Dengan kedua teknik ini, osiloskop memperoleh semua cuplikan dengan satu event picu. Sayangnya laju cuplik DSO membatasi lebar pita osiloskop ketika beroperasi dalam waktu nyata (real time). Secara teori (sesuai dengan Nyquist samplinjg theorema), osiloskop digital membutuhkan masuka dengan sekurang-kurangnya dua cuplikan per periode gelombang untuk merekontruksi suatu bentuk gelombang. Dalam praktek, tiga atau lebih cuplikan per periode menjamin akurasi akuisisi. Jika pencuplik tidak dapat sama cepat dengan sinyal masukannya, osiloskop tidak akan dapat mengumpulkan suatu jumlah yang cukup berakibat menghasilkan suatu peragaan yang lain dari bentuk gelombang aslinya. Yakni osiloskop akan menggambarkan struktur keseluruhan sinyal masukan pada suatu frekuensi yang jauh lebih rendah dari frekuensi sinyal sesungguhnya. .
Kebanyakan DSO, apakah ia menggunakan teknik real time atau equivalent time akan mencuplik pada laju maksimum tanpa mengacu berapa dasar waktu (time base) yang dipilih. Pada kecepatan sapuan yang lebih rendah osiloskop digital menerima jauh lebih banyak cuplikan daripada yang dapat disimpannya. Tergantung pada model akuisisi yang kita pilih, suatu DSO akan membuang cuplikan ekstra atau menggunakannya untuk pemprosesan sinyal-sinyal tambahan seperti deteksi puncak gelombang (peak detect), maupun sampul gelombang (envelope).
DSO mempunyai dua cara untuk menangkap atau mencuplik gelombang, yakni dengan teknik single shot atau real time sampling. Dengan kedua teknik ini, osiloskop memperoleh semua cuplikan dengan satu event picu. Sayangnya laju cuplik DSO membatasi lebar pita osiloskop ketika beroperasi dalam waktu nyata (real time). Secara teori (sesuai dengan Nyquist samplinjg theorema), osiloskop digital membutuhkan masuka dengan sekurang-kurangnya dua cuplikan per periode gelombang untuk merekontruksi suatu bentuk gelombang. Dalam praktek, tiga atau lebih cuplikan per periode menjamin akurasi akuisisi. Jika pencuplik tidak dapat sama cepat dengan sinyal masukannya, osiloskop tidak akan dapat mengumpulkan suatu jumlah yang cukup berakibat menghasilkan suatu peragaan yang lain dari bentuk gelombang aslinya. Yakni osiloskop akan menggambarkan struktur keseluruhan sinyal masukan pada suatu frekuensi yang jauh lebih rendah dari frekuensi sinyal sesungguhnya. .
Kebanyakan DSO, apakah ia menggunakan teknik real time atau equivalent time akan mencuplik pada laju maksimum tanpa mengacu berapa dasar waktu (time base) yang dipilih. Pada kecepatan sapuan yang lebih rendah osiloskop digital menerima jauh lebih banyak cuplikan daripada yang dapat disimpannya. Tergantung pada model akuisisi yang kita pilih, suatu DSO akan membuang cuplikan ekstra atau menggunakannya untuk pemprosesan sinyal-sinyal tambahan seperti deteksi puncak gelombang (peak detect), maupun sampul gelombang (envelope).
3.4. Fungsi Osiloskop
Menurut (Faiks,2014).
1. Untuk
menyelidiki gejala yang bersifat periodik.
2. Untuk
melihat bentuk gelombang kotak dari tegangan
3. Untuk
menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika
4. Dapat
melihat amplitudo tegangan, periode, frekuensi dari sinyal yang tidak diketahui
5. Untuk
melihat harga-harga momen tegangan dalam bentuk sinus maupun bukan sinus
6. Digunakan
untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu, yang
ditampilkan pada layar
7. Mengetahui
beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
8. Mengukur
keadaan perubahan aliran (phase) dari sinyal input
9. Mengukur
Amlitudo Modulasi yang dihasilkan oleh pemancar radio dan generator
pembangkit sinyal
10. Mengukur
tegangan AC/DC dan menghitung frekuensi
3.5 Modifikasi Osiloskop
Bikin Osiloskop
Menggunakan Laptop
aplikasi untuk menjadikan laptop / PC sebagai Osiloskop dengan
bantuan beberapa komponen sebagai antarmuka (interface) nya.

Bahan yang diperlukan:
- Resistor 22K ohm : 2 buah
- Resistor 82K ohm : 2 buah
- Potensiometer 50K Linear : 1 buah + Knop pemutarnya
- Kabel Shield Stereo : 1 meter
- Jack Stereo 3.5mm : 1 buah
- Terminal Tester

Keterangan skema:
- Resistor 22K berfungsi sebagai batas pengaman tegangan yang masuk ke soundcard Laptop.
- Potensiometer berfungsi sebagai penahan tegangan masuk, apabila tegangan yang digunakan lebih dari 5volt, maka potensiometer perlu di geser agar soundcard tidak rusak akibat kelebihan tegangan input.
- Gunakan kabel audio terselubung (Shielded Wire) agar dapat terlindung dari sinyal / induksi dari sekitar kabel tersebut.
Rangkaian setelah disolder Box
kecil dipilih sebagai kemasan unit interface ini


tampak bagian dalam setelah
komponen dipasang..




Gunakan Laptop yang ada LINE-IN/MIC inputnya
Masukkan Jack Stereo ke LINE-IN/MI


APLIKASI OSILOSKOP
Aplikasi ini Trial-14hari, yang dapat di beli
dengan harga tidak lebih dari seratus ribu rupiah ($9.95 USD).

Contoh noise dari charger/adaptor laptop..
Contoh sinyal dari charger handphone (sinyal gigi gergaji)
3.5 Bagian-Bagian Osiloskop
Menurut (Faiks, 2014) bagian-bagian osiloskop meliputi:
1.
Volt atau div : Untuk mengeluarkan
tegangan AC.
2.
CH1 (Input X) : Untuk memasukkan sinyal
atau gelombang yang diukur atau pembacaan posisi horisontal.
3.
AC-DC : Untuk memilih besaran yang
diukur.
4.
Ground : Untuk memilih besaran yang
diukur.
5.
Posisi Y : Untuk mengatur posisi garis
atau tampilan dilayar atas bawah.
6.
Variabel : Untuk kalibrasi osciloskop.
7.
Selektor pilih : Untuk memilih Chanel
yang diperlukan untuk pengukuran.
8.
Layar : Menampilkan bentuk gelombang.
9.
Inten : Mengatur cerah atau tidaknya
sinar pada layar Osiloskop.
10. Rotatin
: Mengaur posisi garis pada layar.
11. Fokus
: Menajamkan garis pada layar.
12. Position
X : Mengatur posisi garis atau tampilan kiri dan kanan.
13. Sweep
time/ div : Digunakan untuk mengatur waktu periode (T) dan Frekwensi ( f ).
14. Mode
: untuk memilih mode yang ada.
15. Variabel
: Untuk kalibrasi waktu periode dan frekwensi.
16. Level
Menghentikan gerak tampilan layar.
17. Exi
Trigger : Untuk trigger dari luar.
18. Power
: untuk menghidupkan Osciloskop.
19. Cal
0,5 Vp-p : Kalibrasi awal sebelum Osciloskop digunakan.
20. Ground
Osciloskop yang dihubungkan dengan ground yang diukur.
21. CH2
( input Y ): Untuk memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan
Vertikal.
.
DAFTAR PUSTAKA
Cooper, D, William. 1985. Instrumentasi elektronik
dan teknik pengukuran. Jakarta: Erlangga.
pada tanggal 30
maret 2016.
(https://doniphysic.wordpress.com/2014/01/06/alat-ukur-listrik-2/dan http://problem-fisika.blogspot.com/2009/04/galvanometer.html) di
akses
Pada tanggal 30
maret 2016
http://choinisah-surgaituadadalamdirikita.blogspot.co.id/2013/05/makalah-multitester_863.html di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://www.news.tridinamika.com/2011/mengenal-si-fenomenal-avo-multimeter di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://renaldchaniago.blogspot.co.id/2012/12/jenis-jenis-multimeter.html di akses Pada tanggal 30 maret 2016
https://faiksmk1.wordpress.com/2014/11/10/pengenalan-osiloskop/ di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://riloeinstein.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-osiloskop.html di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://feryyelyanto.blogspot.co.id/2015/05/jenis-jenis-osiloskop.html
di akses Pada tanggal 30 maret 2016
1. Galvanometer
1.1.
Pengertian Galvanometer
Galvanometer
adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda
potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk
mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena
komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung.
Galvanometer bisa digunakan untuk
mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada
galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut
hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt) (Anonim,2011).
1.2. Sejarah Galvanometer
Sejarah galvanometer dapat
ditelusuri kembali pada tahun 1820,
ketika fisikawan Denmark- Hans Christian Oersted mencatat bahwa jarum magnetik
akan dibelokkan ketika mengalami kontak dengan arus listrik. Ketika sebuah arus
listrik yang lewat melalui konduktor, maka jarum magnetis cenderung berbelok ke
kanan di sudut menuju konduktor,
sehingga dengan arah yang paralel dengan baris induksi sekitar konduktor dan
utara tiang poin dalam arah yang ini baris
induksi mengalir. Secara umum, sejauh mana jarum
bergerak adalah bergantung pada kekuatan
yang sekarang. Dalam galvanometers pertama, jarum
magnetis yang berputar bebas
adalah hung dalam lilitan dari kawat. Pengamatan oleh Oersted kemudian menjadi
prinsip dasar dari kerja sebuah galvanometer. Pada tahun yang sama, fisikawan
Jerman – Johann Schweigger bekerja dengan prinsip ini, dan dengan kemunculan
galvanometer pertama. Hak untuk penemuan galvanometer bergerak-kumparan
pertama, yang banyak digunakan saat ini, jatuh pada fisikawan Prancis – Jacques
Arsene D’Arsonval. Beberapa tahun kemudian, Edward Weston cukup membuat
beberapa perubahan untuk desain ini, dan melakukan improvisasi.” (Doni,
2014).
1.3.
Jenis Galvanometer
Menurut (Cooper,1985) ada 2 jenis
galvanometer yaitu:
a. Galvanometer Balistik
Untuk
mengukur fluksi maknit digunakan galvanometer balistik, dimana galvanometer ini
bekerja menggunakan prinsip d’ Arsonval dan dirancang khusus untuk pemakaian selama
20 – 30 sekon dengan kepekaan tinggi. Pada pengukuran balistik ini, kumparan
menerima suatu impuls arus sesaat, mengakibatkan kumparan berayun ke satu sisi
dan kemudian kembali berhenti dalam gerakan berosilasi. Jika impuls arus
berlangsung singkat, maka defleksi mula-mula dari posisi berhenti berbanding
lurus dengan kuantitas pengosongan muatan listrik melalui kumparan. Nilai
relatif impuls arus yang diukur dalam defleksi sudut mula-mula dari kumparan
adalah :
Q
= K θ
Dimana:
Q
= muatan listrik ( coulomb )
K
= kepekaan galvanometer ( coulomb / radian defleksi )
θ
= defleksi sudut kumparan ( radian )
Harga
kepekaan galvanometer ( K ), dipengaruhi oleh redaman dan besarnya diperoleh
secara eksperimental, melalui pemeriksaan kalibrasi pada kondisi pemakaian yang
nyata.
Untuk
mengkalibrasi galvanometer, digunakan beberapa metoda, yaitu :
1.
metoda kapasitor
2.
metoda solenoid
3.
metoda induktansi bersama.
Adapun
prinsip pengukuran galvanometer balistik, antara lain: Jika maknit permanen
dilepas dengan cepat dari kumparan, maka akan dihasilkan suatu impuls arus yang
menyebabkan galvanometer menyimpang.
b. Galvanometer
Suspensi ( Suspension
Galvanometer )
Pengukuran-pengukuran
arus searah sebelumnya menggunakan galvanometer sistem gantungan, yang
merupakan pelopor instrumen kumparan putar, sebagai dasar pada umumnya
instrumen penunjuk arus searah yang dipakai secara luas saat ini. Dengan
beberapa penyempurnaan, Galvanometer suspensi masih digunakan untuk
pengukuran-pengukuran laboratorium sensitivitas tinggi tertentu, jika keindahan
instrumen bukan merupakan masalah dan portabilitas bukan menjadi prioritas
1.4. Fungsi Galvanometer
Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk
mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer
tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik
yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung
.Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial
listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal
(pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut
hambatan shunt). Galvanometer alat yang
digunakan untuk menentukan keberadaan, arah, dan kekuatan dari sebuah arus
listrik dalam sebuah konduktor.
1.5. Modifikasi galvanometer
Alat
Pendeteksi Kebohongan adalah alat yang digunakan untuk mengukur kebohongan melalui
tingkat emosi seseorang. Kebohongan seseorang dapat terdeteksi melalui tingkat
emosinya yang terlihat melalui pengukuran pada laju pernafasan, tekanan darah,
frekuensi denyut nadi dan respon pada kulit. Di China, dahulu terdapat sebuah
metode sederhana untuk mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak.
Seorang yang di tes kebohongannya dipaksa untuk mengunyah tepung beras dan
memuntahkannya. Bila tepung beras keluar dalam keadaan kering, maka orang
tersebut dianggap berbohong. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa orang-orang yang
berkata jujur dan bohong memiliki respon fisiologis yang berbeda. Penurunan
produksi air liur diinterpretasikan sebagai hasil dari ketakutan karena
berbohong.

Sejarah
Penemuan Alat Pendeteksi Kebohongan
Penemuan
alat pendeteksi kebohongan berawal dari Amerika Serikat. Alat pendeteksi
kebohongan juga dikenal dengan nama mesin polygraph. Mesin polygraph ditemukan
pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902. Mesin polygraph adalah suatu
instrumen yang secara bersamaan mencatat perubahan proses fisiologis seperti
detak jantung dan tekanan darah.
Pada
tahun 1921, John Larson menciptakan alat pendeteksi kebohongan yang lebih
modern. John Larson meneliti berbagai instrumen yang tersedia serta
metodologinya, Larson lantas memilih sphygmomanometer erlanger.
Sphygmomanometer erlanger ialah alat untuk mengukur tekanan darah yang bekerja
secara manual saat memompa dan mengurangi tekanan darah pada manset, seperti
alat pengukur tekanan darah dalam medis. Sphygmomanometer erlanger dapat diubah
untuk menghasilkan rekaman permanen dari tekanan darah dengan cara menggunakan
kymograph. Kymograph ialah alat untuk mencatat atau melukiskan variasi tekanan
atau gerakan, misalnya gerak gelombang denyut nadi dan tekanan darah.
Pada
tahun 1924 Leonarde Keeler membuat instrumen alat pendeteksi kebohongan yang
disebut dengan Emotograph. Emotograph adalah cara penanda yang secara otomatis
menangkap data dan informasi yang memiliki sensor pada tubuh untuk mengukur
denyut nadi, kulit, suhu dan konduktivitas listrik. Leonarde menggunakan papan
tempat pemotong roti sebagai dasar untuk instrumen dan yang dikenal
sebagai polygraph papan pemotong roti. Instrument Leonarde Keeler
tersebut diberikan kepada John Larson untuk digunakan di kepolisian Berkeley.
Hasil
penemuan Leonarde Keeler tersebut dimodifikasi oleh Chester W. Darrow dari
Institute for Juvenile Research membuat modifikasi yang bernama Cardio Pneumo
Psikografi, dengan menambahkan sebuah galvanometer. Galvanometer adalah alat
pengukur kuat arus yang sangat lemah untuk menentukan keberadaan arah dan
kekuatan dari sebuah arus listrik dalam sebuah konduktor.
Macam
Macam Sensor Pada Alat Pendeteksi Kebohongan :
1.
Sensor Laju Pernapasan :
Berwujud
tabung karet yang berisi udara dan diikatkan mengelilingi area perut atau dada.
Ketika dada atau otot-otot perut mengembang untuk mengambil udara, udara di dalam
tabung dipindahkan dalam bentuk grafik pada layar.
pneumograph
2.
Sensor Tekanan Darah
Sebuah
alat pengukur tekanan darah ditempatkan sekitar lengan. Alat ini mencatat
perubahan-perubahan dalam tekanan darah dan dengan sebuah alat data tersebut
dikirim dan dimunculkan dalam grafik.
polygraph
Galvanic
Skin Resistance
Alat ini digunakan untuk mengukur aktivitas elektro-dermal dan
pada dasarnya adalah pengukur dari keringat di ujung jari anda. Ujung jari
adalah salah satu daerah yang paling berpori pada tubuh dan indikasinya adalah
jika kita berkeringat maka kita sedang dalam tekanan dan alami muncul di saat
berbohong. Sebuah galvanometer akan dipasangkan pada dua ujung jari subjek
pemeriksaan. Sensor ini akan mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan
listrik. Ketika kulit terhidrasi (seperti dalam keadaan berkeringat), kulit
dapat menghantarkan listrik jauh lebih mudah dibandingkan pada saat kulit
kering dan semua data data ini tercatat pula di grafik.
Lie detector -
Galvanic Skin Resistance
Cara
Kerja Alat Pendeteksi Kebohongan
Alat
pendeteksi kebohongan pada dasarnya terdiri dari alat-alat medis yang digunakan
untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. Seseorang akan ditanya
tentang suatu peristiwa atau kejadian tertentu, sedangkan para pemeriksa akan
melihat bagaimana perubahan detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan
aktivitas elektro-dermal (keringat dari jari-jari tangan) yang dibandingkan
dengan keadaan normal.

Kurva
pada alat pendeteksi kebohongan
Perubahan
pada parameter-parameter tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut sedang
berbohong. Alat pendeteksi kebohongan akan menunjukan kebohongan pada sistem
dalam bentuk gelombang. Bila seseorang sedang berbohong maka gelombang akan
bergetar dengan cepat. Sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang akan
bergetar secara perlahan atau bahkan tidak bergetar.
Saat
seseorang sedang dites menggunakan alat pendeteksi kebohongan, maka orang
tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah
gambar grafik yang menunjukkan hasil-hasil dari pertanyaan yang diajukan.
Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan di
atas. Kadang-kadang alat pendeteksi kebohongan juga akan mencatat hal-hal
seperti gerakan lengan dan kaki.
Ketika
tes dengan alat pendeteksi kebohongan dimulai, sang penanya akan memberi 3
sampai 4 pertanyaan yang mudah dan sederhana dengan jawaban yang diketahui
sebagai permulaan. Setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian
indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah
seismograph pada pencatat bencana alam gempa bumi.
1.6. Bagian-Bagian Galvanometer
Sebuah
maknet permanen berbentuk sepatu kuda dengan potongan-potongan besi lunak
menempel padanya.
1) Antara potongan-potongan
tersebut, terdapat sebuah silinder besi lunak yang berfungsi untuk menghasilkan
medan maknet yang homogen.
2) Kumparan yang dililitkan
pada sebuah kerangka logam ringan dan dipasang sedemikian rupa hingga dapat
berputar bebas di celah udara.
3) Jarum penunjuk dipasang
dibagian atas kumparan, bergerak sepanjang skala yang sudah dibagi-bagi dan
menunjukkan defleksi sudut kumparan yang berarti juga menunjukkan arus melalui
kumparan.
4) Bentuk “ Y “ adalah
pengatur nol ( zero adjust ) dan dihubungkan ke ujung tetap pegas
pengatur depan.
5) Sebuah pasak eksentrik (
pin ) yang menembus kotak instrumen yang memegang bagian “ Y “, sehingga posisi
“ nol “ jarum dapat diatur dari luar.
6) Dua pegas konduktif dari
fosfor-perunggu biasanya berkekuatan sama, yang menghasilkan gaya terkalibrasi
untuk melawan torsi kumparan putar dan prestasi pegas yang konstan dibutuhkan
untuk mempertahankan ketelitian instrumen.
7) Ketebalan pegas
diperiksa secara teliti untuk mencegah kondisi pegas yang permanen ( eksitasinya
hilang ). Arus dialirkan dari dan ke kumparan melalui pegas-pegas penghantar.
8) Keseluruhan sistem yang berputar dibuat
setimbang statis oleh tiga buah beban kesetimbangan untuk semua posisi
defleksi, seperti ditunjukkan pada gambar
9) Jarum, pegas dan titik
putar ( pivot ) dirakit ke peralatan kumparan dengan menggunakan alas titik
putar dan ditopang oleh bantalan jewel ( jewel bearing ), seperti ditunjukkan
pada gambar 8. Jewel berbentuk “ V “ ditunjukkan pada gambar 8 a digunakan
secara umum pada bantalan-bantalan instrumen dan mempunyai gesekan paling kecil
diantara semua bantalan
2.
MULTITESTER
2.1. Pengertian
Multitester
Multitester adalah alat
pengukur listrik yang juga sering disebut sebagai VOM (Volt-Ohm Meter).Pada
kehidupan sehari-hari multitester dapat digunakan untuk mengukur tegangan (Volt
meter), hambatan (Ohm meter) maupun arus (Ampere meter). Multitester ada 2
jenis yaitu multitester analog dan digital. Multitester analog menggunakan
peraga jarum moving coil dan besaran ukur berdasarkan arus (elektronis dan non
elektronis). Sedangkan multitester digital menggunakan peraga bilangan digital
dan besaran ukur berdasarkan tegangan yang dikonversi ke sinyal digital.
Spesifikasi Multitester
a. Batas
Ukur dan Skala Tegangan searah (DC&AC), arus (DC), dan resistensi
b. Sensitivitas
pengukuran tegangan
c. sensitivitas
pengukuran tegangan dalam ΩΩ/V/V
d. ketelitian
dalam %
e. angkauan
frekuensi tegangan bolak bolak-balik
f. yang
mampu diukur (misalnya antara 20 Hz -30 KHz)
g. batere
yang diperlukan (Choinisah, 2013).
2.2. Sejarah Multitester
Pengenalan pertama multimeter menjadi
alat uji utama untuk semua insinyur listrik dan radio, membuatnya menjadi
instrumen terbaik dari jenisnya di Inggris dari tahun 1923 sampai setidaknya
tahun 1960. Karena mudah dibawa kemana-mana, memungkinkan pengukuran di tempat
yang jauh dari laboratorium dengan akurasi yang menjadi norma bagi semua
insinyur tapi diadopsi di fasilitas penelitian untuk setiap hari kerja karena
memiliki fitur, ukuran yang ringkas.
Sebelumnya, instrumen ini masing-masing fungsinya memerlukan peralatan
yang kompleks dan terpisah dimana tidak dapat terpisah dengan laboratorium.
Ringkasnya, terdapat standar yang baru yang dapat dikontrol dan memiliki
beragam perangkat modern yang berjalan pada tahun 1970-an dan seterusnya.
Banyak insinyur masih memilikinya dan masih memanfaatkannya. Multimeter
memainkan peran besar dalam keberhasilan teknologi bergantung pada akurasi dan
dapat diandalkan dalam lingkungan apapun(Anonim,2011)
2.3. Jenis Multitester
Menurut (Renald, 2012) jenis multitester ada dua yaitu:
a.
Multitester Analog
Multimeter analog lebih banyak dipakai untuk kegunaan sehari-hari, seperti para
tukang servis TV atau komputer kebanyakan menggunakan jenis yang analog ini.
Kelebihannya adalah mudah dalam pembacaannya dengantampilan yang lebih simple.
Sedangkan kekurangannya adalah akurasinya rendah, jadi untuk pengukuran yang
memerlukan ketelitian tinggi sebaiknya menggunakan multimeter digital.
b.
Multitester Digital
Multimeter digital memiliki
akurasi yang tinggi, dan kegunaan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan
multimeter analog. Yaitu memiliki tambahan-tambahan satuan yang lebih teliti,
dan juga opsi pengukuran yang lebih banyak, tidak terbatas pada ampere, volt,
dan ohm saja. Multimeter digital biasanya dipakai pada penelitian atau
kerja-kerja mengukur yang memerlukan kecermatan tinggi, tetapi sekarang ini
banyak juga bengkel-bengkel komputer dan service center yang memakai multimeter
digital.
Kekurangannya adalah
susah untuk memonitor tegangan yang tidak stabil. Jadi bila melakukan
pengukuran tegangan yang bergerak naik-turun, sebaiknya menggunakan multimeter
analog.
2.4. Fungsi
Multitester
Menurut (Choinisah, 2013) fungsi multitester yaitu:
a.
Alat ukur arus searah
Ammeter arus searah (DC ammeter)
dipergunakan untuk mengukur arus searah. Alat ukur ini dapat berupa
amperemeter, milliamperemeter dan galvanometer. Dalam mempergunakan ammeter
arus searah perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
1) Ammeter
tidak boleh dipasang sejajar (paralel) dengan sumber daya
2) Ammeter
harus dipasang seri dengan rangkaian yang diukur arusnya
3) Polaritas
(tanda + dan -)
b.
Alat ukur
tegangan searah
Suatu alat ukur tegangan searah umumnya
terdiri dari: meter dasar (Amperemeter) dan rangkaian tambahan untuk memperoleh
hubungan antara tegangan searah yang diukur dengan arus searah yang mengalir
melalui meter dasar. Meter dasar merupakan suatu alat yang bekerja (merupakan
stator), dan suatu kumparan yang akan dilalui arus yang bebas bergerak dalam
medan magnet tetap tersebut.
c.
Alat ukur tegangan bolak-balik
Pada dasarnya voltmeter bolak-balik
terdiri dari: rangkaian penyearah, meter dasar (misalnya µA-meter searah) dan
resistor seri.
d. Alat
ukur resistansi
Secara umum suatu rangkaian ohmmeter
terdiri dari meter dasar berupa miliammeter/mikroammeter arus searah, beberapa
buah resistor dan potensiometer serta suatu sumber tegangan searah/batere. Kita
mengenal dua macam ohmmeter, yaitu ohmmeter seri dan ohmmeter paralel.
rangkaian
dasar ohmmeter
Multimeter dapat juga dipergunakan untuk
mengukurbesaran-besaran (atau sifat-sifat komponen) secara tidak langsung).
Beberapa
contoh diantaranya adalah:
a. mengukur
polaritas dan baik buruknya dioda secara sederhana
b. mengetahui
baik buruknya transistor secara sederhana
c. mengukur
kapasitansi
d. mengukur
induktansi
Fungsi multimeter dengan kategori Digital Multimeter adalah sebagai
berikut :
1. Menguji
dioda dengan tujuan untuk mendeteksi tingkat kerusakan akibat suatu hal yang
tidak kita ketahui
2. Menguji
kondensator
3. Menguji
transformator
4. Mengukur
tegangan DC
5. Mengukur
arus DC
6. Mengukur tegangan
AC
7. Pengecekan
hubungan singkat
8. Menguji
transistor PNP
9. Menguji
kapasitor elektrolit
10. Pengukur
resistansi pada multimeter
11. Penguji
transistor NPN
Dan yang terakhir adalah Fungsi Multimeter Analog,
multimeter jenis ini sangat mirip dengan digital multimeter, multimeter jenis
ini biasa digunakan oleh kita pada umumnya karena lebih mudah membacanya karena
memang multimeter jenis ini termasuk multimeter yang lebih simpel dan mudah.
Tetapi bagi anda yang ingin meneliti sesuatu secara mendetail, disarankan menggunakan
Digital Multimeter.
2.5. Modifikasi Multitester
Digital multimeter circuit diagram modifikasi digital multimeter circuit
diagram biasanya
banyak Sekali kita temukan diacara balap motor yang banyak
diselenggrakan di Indonesia. diacara balap motor drag tersebut biasanya motor yang ikut dan alam kompetisi adalah motor-motor yg memang
sudah dimodifikasi sehingga motor yang biasanya masih standar akan menjadimotor yang seakan
tinggal tulangan motor Itu Saja. Selain itu jugabiasanya keepatan mesin motor yang standar akanberubah menjadi sangat cepat yang telah
disetel oleh bengkel yang memang
menangani motor itu sebelum mengikuti kontes balap.
Blue Point Multimeter Manual adalah salah satu dari beberapa contoh foto/gambar
modifikasi dari topik yang telah kita bahas sebelumnya pada Modifikasi Kawasaki
Kaze R yang terdapat pada situs termodifikasi.net.
Termodifikasi.net adalah salah satu situs dari ratusan situs yang menyajikan
berbagai contoh gaya modif kuda besi. Memperlihatkan berbagai foto dan gambar
Blue Point Multimeter hasil modif motor dengan berbagai varian yang berbeda,
sesuai aliran terbaru saat ini tahun 2015. Sobat bikers dapat dengan jelas
melihat-lihat modifikasi Blue Point Multimeter Manual yang lain. koleksi
gambar, foto, desain baru dan konsep gaya modifikasi motor baru yang inspiratif
kami harap dapat membantu sobat bikers dalam memodif motor.
Selain
gambar Blue Point Multimeter Manual, kamu juga dapat melihat koleksi gambar
kami lainnya yang berhubungan dengan Blue Point Multimeter Manual. Kamu dapat
dengan mudah meng klik pada gambar atau foto selain Blue Point Multimeter
yang tersedia di bawah ini, atau kamu juga dapat dengan gampang kembali ke
artikel bahasan sebelumnya Modifikasi Kawasaki Kaze R untuk mencari ide atau inspirasi baru lainnya. Kami harap
gambar/ foto yang kami sediakan berikut bermanfaat dan dapat membantu kamu
mendapatkan inspirasi baru terkait Blue Point Multimeter Manual untuk
modifikasi motor kamu.
2.6. Bagian-Bagian Alat Multitester
Bagian
Multimeter

a. Papan Skala :
digunakan untuk membaca hasil pengukuran. Pada papan skala terdapat
skala-skala; tahanan/resistan (resistance) dalam satuan Ohm (Ω),
tegangan (ACV dan DCV), kuat arus (DCmA), dan skala-skala lainnya.
b. Saklar Jangkauan Ukur : digunakan untuk menentukan posisi kerja multimeter , dan batas ukur (range). Jika digunakan
untuk mengukur nilai satuan tahanan (dalam W), saklar ditempatkan pada posisi
W, demikian juga jika digunakan untuk mengukur tegangan (ACV-DCV), dan kuat
arus (mA-mA). Satu hal yang perlu diingat, dalam mengukur tegangan listrik,
posisi saklar harus berada pada batas ukur yang lebih tinggi dari tegangan yang
akan diukur. Misal, tegangan yang akan diukur 220 ACV, saklar harus berada pada
posisi batas ukur 250 ACV. Demikian juga jika hendak mengukur DCV.
c. Sekrup Pengatur Posisi Jarum (preset) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka
nol (sebelah kiri papan skala).
d. Tombol Pengatur Jarum Pada Posisi Nol (Zero
Adjustment) : digunakan untuk
menera jarum penunjuk pada angka nol sebelum multimeter digunakan untuk mengukur nilai
tahanan/resistan. Dalam praktek, kedua ujung kabel penyidik (probes)
dipertemukan, tombol diputar untuk memosisikan jarum pada angka nol.
e. Lubang Kabel Penyidik : tempat untuk menghubungkan kabel penyidik dengan
Multimeter. Ditandai dengan tanda (+) atau out dan (-) atau common.
Pada multimeter yang lebih lengkap terdapat juga lubang untuk
mengukur hfe transistor (penguatan arus searah/DCmA oleh transistor
berdasarkan fungsi dan jenisnya), dan lubang untuk mengukur kapasitas
kapasitor.
f. Posisi
ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai
voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
g. Posisi
DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai
voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
h. Posisi
DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi
sebagai mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan
500.
i.
Terminal, berfungsi sebagai W(9) Lubang kutub + (V A tempat
masuknya test lead kutub + yang berwarna merah.
j.
Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead
kutub – yang berwarna hitam.
k. Saklar
pemilih polaritas
(Polarity Selector Switch), berfungsi untuk memilih polaritas DC atau AC.
l.
Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-komponen
multimeter.
m. Jarum
penunjuk meter (Knife – edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk besaran yang diukur.
n. Skala
(Scale), berfungsi sebagai
skala pembacaan meter.
2. OSILOSKOP
3.1. Pengertian Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur Elektronik yang
dapat memetakan atau memproyeksikan sinyal listrik dan frekuensi menjadi gambar
grafik agar dapat dibaca dan mudah dipelajari. Dengan menggunakan Osiloskop,
kita dapat mengamati dan menganalisa bentuk gelombang dari sinyal listrik atau
frekuensi dalam suatu rangkaian Elektronika. Pada umumnya osiloskop dapat
menampilkan grafik Dua Dimensi (2D) dengan waktu pada sumbu X dan tegangan pada
sumbu Y(Faiks,2014).
3.2. Sejarah Osiloskop
Karl
Ferdinand Braun (Fulda, 6 Juni 1850 – New York, 20 April 1918) adalah seorang
fisikawan Jerman. Braun belajar di Universitas Marburg dan menerima gelar di
Universitas Berlin pada tahun 1872. Ia menjadi direktur di Lembaga Fisika dan
profesor fisika di Strasbourg (1895). Pada tahun 1897, ia membuat oskiloskop
tabung sinar katoda pertama. Teknik ini digunakan oleh sebagian besar peralatan
TV dan monitor komputer. Tabung katode masih disebut “tabung Braun”
(Braunsche Röhre) di negara penutur bahasa Jerman (dan di Jepang: Buraun-kan).
Pada tahun 1909 Braun menerima Penghargaan Nobel dalam Fisika dengan Guglielmo
Marconi untuk “sumbangan pada pengembangan telegrafi nirkabel.” Pada awal Perang
Dunia I Braun pindah ke Amerika Serikat untuk mempertahankan stasiun nirkabel
Jerman yang terletak di Sayville (Long Island) terhadap serangan oleh Marconi
Corporation yang dikendalikan Inggris (saat itu AS belum terjun dalam perang).
Braun meninggal di rumahnya di Brooklyn sebelum perang berakhir, pada tahun
1918 (Rilo, 2014).
3.3. Jenis Osiloskop
Menurut (Fery,2015)
berdasarkan jenisnya osiloskop di bagi menjadi 2 yaitu:
a. Osiloskop
Analog
Osiloskop tipe waktu nyata analog (ART) menggambar
bentuk-bentuk gelombang listrik dengan melalui gerakan pancaran electron
(electron beam) dalam sebuah tabung sinar katoda (CRT – Cathode Ray Tube) dari
kiri ke kanan. Pancaran electron dari bagian senapan electron (electron gun)
yang membentur atau menumbuk dinding dalam tabung tersebut Mengeksitasi
electron dalam lapisan fosfor pada layar tabung mengeksitasi electron dalam
lapisan fosfor pada layar tabung sehingga terjadi perpendaran atau nyala pada
layar yang menggambarkan bentuk dasar gelombang. Dalam perjalanannya dari
senapan electron menuju layar yang berfosfor tadi, electron-elektron
dipengaruhi oleh medan listrik dalam arah vertical (ke atas maupun ke bawah)
oleh sepasang pelat pembelok (defleksi) vertical dan dalam arah horizontal oleh
sepasang pelat defleksi horizontal. Apabila tegangan pada semua pelat tersebut
nol Volt, electron akan berjalan lurus membentuk layar sehingga hanya terlihat
sebuah bintik nyala di ditengah layar saja. Untuk “membuat” gambar garis pada
layar, diperlukan gelombang gigi gergaji yang diberikan kepada pasangan pelat
horizontal tersebut. Tegangan gigi gergaji ini dihasilkan oleh time base
generator/sweep generator atau generator sapu, yang kemudian diperkuat oleh
penguat horizontal. Tegangan gigi gergaji ini naik secara linier terhadap waktu
sehingga berkas electron pada layar bergerak dari kiri ke kanan. Setelah sampai
di bagian paling kanan layar, tegangan gigi gergaji turun dengan cepat ke nol
sehingga memulai gerakan berulang dari bagian kiri layar. Gerakan balik yang
cepat ini tidak dapat ditangkap oleh mata sehingga yang terlihat adalah gambar
garis horizontal lurus pada layar yang tidak terputus. Agar osiloskop dapat
menggambarkan bentuk gelombang yang sedang diamati maka gelombang tersebut
diumpankan ke rangkaian vertical. Rangkaian vertical ini berfungsi memperkuat
atau melemahkan simpangan vertical dari gelombang masukan, sehingga tegangan
yan g diberikan ke pasangan pelat defleksi vertical menghasilkan medan listrik yang
dapat mempengaruhi gerakan vertical electron secara proposional selagi ia
bergerak menuju ke layar, yang berakibat bentuk gelombang pada layar dapat
diperbesar atau diperkecil. Karena arah gerak electron berdasar vector medan
listrik horizontal dan vertical, CRT nya disebut direcdt viev vector CRT.
Agar gambar pada layar dapat stabil, digunakan
rangkaian picu (trigger). Jika suatu gelombang listrik dihubungkan ke ART,
rangkaian picu akan memonitor gelombang masukan tersebut dan menunggu event –
yakni saat terjadinya peristiwa atau kondisi yang dapat dipakai untuk pemicuan.
Event picu ini berupa suatu sisi atau tebing gelombang yang memenuhi
persyaratan yang telah didefinisikan atau ditentukan melalui suatu pilihan
tombol pada panel depan osiloskop. Sekali event picu ini terjadi, osiloskop
akan menstart generator sapu dan meragakan bentuk gelombang yang sedang diukur.
Proses ini akan berulang sepanjang osiloskop tersebut dapat mendeteksi
event-event picu. Selain menyangkut vertical dan horizontal, osiloskop analog
mempunyai dimensi ketiga yang disebut dengan gray scaling (skala/tingkatan atau
intensitas kelabu). Tingkatan kelabu ini diciptakan intensitas pancaran
electron pada tabung gambar, yang meragakan detil gambar bagian tertentu secara
sekilas saja. Kondisi ini terjadi karena kecepatan pancaran electron
mempengaruhi kecerahan jejaknya. Makin cepat pancaran bergerak dari satu titik
ke titik yang lain pada bagian tertentu, makin sedikit waktu ia dapat
mengeksitasi electron-elektron pada fosfor yang terdapat pada dinding layar.
Akibatnya jejak yang membentuk gambar gelombang abgian tersebut akan lebih
redup daripada gambar bagian gelombang yang lainnya. .
Skala kelabu ini juga menunjukan frekuensi relative dari event-event individual (gejala khusus) yang terjadi dalam suatu gelombang yang sifatnya berulang (repetitif). Pancaran electron yang menggambarkan bagian gelombang yang bentuknya sama secara berulang akan menyebabkan bagian yang dapat tergambar dengan terang di layar, sedangkan event lekuk gelombang yang jarang terjadi akan mendapat lebih sedikit waktu eksitasi. Akhirnya menjadi jelas bahwa daerah dari lapisan fosfor yang dirangsang/dieksitasi secara berulang Nampak lebih terang daripada daerah yang kurang distimulasi.
Skala kelabu ini juga menunjukan frekuensi relative dari event-event individual (gejala khusus) yang terjadi dalam suatu gelombang yang sifatnya berulang (repetitif). Pancaran electron yang menggambarkan bagian gelombang yang bentuknya sama secara berulang akan menyebabkan bagian yang dapat tergambar dengan terang di layar, sedangkan event lekuk gelombang yang jarang terjadi akan mendapat lebih sedikit waktu eksitasi. Akhirnya menjadi jelas bahwa daerah dari lapisan fosfor yang dirangsang/dieksitasi secara berulang Nampak lebih terang daripada daerah yang kurang distimulasi.
b. Osiloskop
Digital.
Jika
dalam osiloskop analog gelombang yang akan ditampilkan langsung diberikan ke
rangkaian vertikal sehingga berkesan “diambil” begitu saja (real time), maka
dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih dulu disampling
(dicuplik) dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai
tegangan ini bersama sama dengan skala waktu gelombangnya di memori. Pada
prinsipnya, osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian banyak
nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai
dihentikan. .
DSO mempunyai dua cara untuk menangkap atau mencuplik gelombang, yakni dengan teknik single shot atau real time sampling. Dengan kedua teknik ini, osiloskop memperoleh semua cuplikan dengan satu event picu. Sayangnya laju cuplik DSO membatasi lebar pita osiloskop ketika beroperasi dalam waktu nyata (real time). Secara teori (sesuai dengan Nyquist samplinjg theorema), osiloskop digital membutuhkan masuka dengan sekurang-kurangnya dua cuplikan per periode gelombang untuk merekontruksi suatu bentuk gelombang. Dalam praktek, tiga atau lebih cuplikan per periode menjamin akurasi akuisisi. Jika pencuplik tidak dapat sama cepat dengan sinyal masukannya, osiloskop tidak akan dapat mengumpulkan suatu jumlah yang cukup berakibat menghasilkan suatu peragaan yang lain dari bentuk gelombang aslinya. Yakni osiloskop akan menggambarkan struktur keseluruhan sinyal masukan pada suatu frekuensi yang jauh lebih rendah dari frekuensi sinyal sesungguhnya. .
Kebanyakan DSO, apakah ia menggunakan teknik real time atau equivalent time akan mencuplik pada laju maksimum tanpa mengacu berapa dasar waktu (time base) yang dipilih. Pada kecepatan sapuan yang lebih rendah osiloskop digital menerima jauh lebih banyak cuplikan daripada yang dapat disimpannya. Tergantung pada model akuisisi yang kita pilih, suatu DSO akan membuang cuplikan ekstra atau menggunakannya untuk pemprosesan sinyal-sinyal tambahan seperti deteksi puncak gelombang (peak detect), maupun sampul gelombang (envelope).
DSO mempunyai dua cara untuk menangkap atau mencuplik gelombang, yakni dengan teknik single shot atau real time sampling. Dengan kedua teknik ini, osiloskop memperoleh semua cuplikan dengan satu event picu. Sayangnya laju cuplik DSO membatasi lebar pita osiloskop ketika beroperasi dalam waktu nyata (real time). Secara teori (sesuai dengan Nyquist samplinjg theorema), osiloskop digital membutuhkan masuka dengan sekurang-kurangnya dua cuplikan per periode gelombang untuk merekontruksi suatu bentuk gelombang. Dalam praktek, tiga atau lebih cuplikan per periode menjamin akurasi akuisisi. Jika pencuplik tidak dapat sama cepat dengan sinyal masukannya, osiloskop tidak akan dapat mengumpulkan suatu jumlah yang cukup berakibat menghasilkan suatu peragaan yang lain dari bentuk gelombang aslinya. Yakni osiloskop akan menggambarkan struktur keseluruhan sinyal masukan pada suatu frekuensi yang jauh lebih rendah dari frekuensi sinyal sesungguhnya. .
Kebanyakan DSO, apakah ia menggunakan teknik real time atau equivalent time akan mencuplik pada laju maksimum tanpa mengacu berapa dasar waktu (time base) yang dipilih. Pada kecepatan sapuan yang lebih rendah osiloskop digital menerima jauh lebih banyak cuplikan daripada yang dapat disimpannya. Tergantung pada model akuisisi yang kita pilih, suatu DSO akan membuang cuplikan ekstra atau menggunakannya untuk pemprosesan sinyal-sinyal tambahan seperti deteksi puncak gelombang (peak detect), maupun sampul gelombang (envelope).
3.4. Fungsi Osiloskop
Menurut (Faiks,2014).
1. Untuk
menyelidiki gejala yang bersifat periodik.
2. Untuk
melihat bentuk gelombang kotak dari tegangan
3. Untuk
menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika
4. Dapat
melihat amplitudo tegangan, periode, frekuensi dari sinyal yang tidak diketahui
5. Untuk
melihat harga-harga momen tegangan dalam bentuk sinus maupun bukan sinus
6. Digunakan
untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu, yang
ditampilkan pada layar
7. Mengetahui
beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
8. Mengukur
keadaan perubahan aliran (phase) dari sinyal input
9. Mengukur
Amlitudo Modulasi yang dihasilkan oleh pemancar radio dan generator
pembangkit sinyal
10. Mengukur
tegangan AC/DC dan menghitung frekuensi
3.5 Modifikasi Osiloskop
Bikin Osiloskop
Menggunakan Laptop
aplikasi untuk menjadikan laptop / PC sebagai Osiloskop dengan
bantuan beberapa komponen sebagai antarmuka (interface) nya.

Bahan yang diperlukan:
- Resistor 22K ohm : 2 buah
- Resistor 82K ohm : 2 buah
- Potensiometer 50K Linear : 1 buah + Knop pemutarnya
- Kabel Shield Stereo : 1 meter
- Jack Stereo 3.5mm : 1 buah
- Terminal Tester

Keterangan skema:
- Resistor 22K berfungsi sebagai batas pengaman tegangan yang masuk ke soundcard Laptop.
- Potensiometer berfungsi sebagai penahan tegangan masuk, apabila tegangan yang digunakan lebih dari 5volt, maka potensiometer perlu di geser agar soundcard tidak rusak akibat kelebihan tegangan input.
- Gunakan kabel audio terselubung (Shielded Wire) agar dapat terlindung dari sinyal / induksi dari sekitar kabel tersebut.
Rangkaian setelah disolder Box
kecil dipilih sebagai kemasan unit interface ini


tampak bagian dalam setelah
komponen dipasang..




Gunakan Laptop yang ada LINE-IN/MIC inputnya
Masukkan Jack Stereo ke LINE-IN/MI


APLIKASI OSILOSKOP
Aplikasi ini Trial-14hari, yang dapat di beli
dengan harga tidak lebih dari seratus ribu rupiah ($9.95 USD).

Contoh noise dari charger/adaptor laptop..
Contoh sinyal dari charger handphone (sinyal gigi gergaji)
3.5 Bagian-Bagian Osiloskop
Menurut (Faiks, 2014) bagian-bagian osiloskop meliputi:
1.
Volt atau div : Untuk mengeluarkan
tegangan AC.
2.
CH1 (Input X) : Untuk memasukkan sinyal
atau gelombang yang diukur atau pembacaan posisi horisontal.
3.
AC-DC : Untuk memilih besaran yang
diukur.
4.
Ground : Untuk memilih besaran yang
diukur.
5.
Posisi Y : Untuk mengatur posisi garis
atau tampilan dilayar atas bawah.
6.
Variabel : Untuk kalibrasi osciloskop.
7.
Selektor pilih : Untuk memilih Chanel
yang diperlukan untuk pengukuran.
8.
Layar : Menampilkan bentuk gelombang.
9.
Inten : Mengatur cerah atau tidaknya
sinar pada layar Osiloskop.
10. Rotatin
: Mengaur posisi garis pada layar.
11. Fokus
: Menajamkan garis pada layar.
12. Position
X : Mengatur posisi garis atau tampilan kiri dan kanan.
13. Sweep
time/ div : Digunakan untuk mengatur waktu periode (T) dan Frekwensi ( f ).
14. Mode
: untuk memilih mode yang ada.
15. Variabel
: Untuk kalibrasi waktu periode dan frekwensi.
16. Level
Menghentikan gerak tampilan layar.
17. Exi
Trigger : Untuk trigger dari luar.
18. Power
: untuk menghidupkan Osciloskop.
19. Cal
0,5 Vp-p : Kalibrasi awal sebelum Osciloskop digunakan.
20. Ground
Osciloskop yang dihubungkan dengan ground yang diukur.
21. CH2
( input Y ): Untuk memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan
Vertikal.
.
DAFTAR PUSTAKA
Cooper, D, William. 1985. Instrumentasi elektronik
dan teknik pengukuran. Jakarta: Erlangga.
pada tanggal 30
maret 2016.
(https://doniphysic.wordpress.com/2014/01/06/alat-ukur-listrik-2/dan http://problem-fisika.blogspot.com/2009/04/galvanometer.html) di
akses
Pada tanggal 30
maret 2016
http://choinisah-surgaituadadalamdirikita.blogspot.co.id/2013/05/makalah-multitester_863.html di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://www.news.tridinamika.com/2011/mengenal-si-fenomenal-avo-multimeter di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://renaldchaniago.blogspot.co.id/2012/12/jenis-jenis-multimeter.html di akses Pada tanggal 30 maret 2016
https://faiksmk1.wordpress.com/2014/11/10/pengenalan-osiloskop/ di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://riloeinstein.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-osiloskop.html di akses Pada tanggal 30 maret 2016
http://feryyelyanto.blogspot.co.id/2015/05/jenis-jenis-osiloskop.html
di akses Pada tanggal 30 maret 2016





Tidak ada komentar:
Posting Komentar