Rabu, 11 Mei 2016

 ALAT UKUR LISTRIK

1.      Galvanometer
1.1. Pengertian Galvanometer
      Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung. Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt) (Anonim,2011).
1.2. Sejarah Galvanometer
      Sejarah galvanometer dapat ditelusuri kembali pada  tahun 1820, ketika fisikawan Denmark- Hans Christian Oersted mencatat bahwa jarum magnetik akan dibelokkan ketika mengalami kontak dengan arus listrik. Ketika sebuah arus listrik yang lewat melalui konduktor, maka jarum magnetis cenderung berbelok ke kanan di sudut menuju konduktor, sehingga dengan arah yang paralel dengan baris induksi sekitar konduktor dan utara tiang poin dalam arah yang ini baris induksi mengalir. Secara umum, sejauh mana jarum bergerak  adalah bergantung pada kekuatan yang sekarang. Dalam galvanometers pertama, jarum magnetis yang berputar bebas adalah hung dalam lilitan dari kawat. Pengamatan oleh Oersted kemudian menjadi prinsip dasar dari kerja sebuah galvanometer. Pada tahun yang sama, fisikawan Jerman – Johann Schweigger bekerja dengan prinsip ini, dan dengan kemunculan galvanometer pertama. Hak untuk penemuan galvanometer bergerak-kumparan pertama, yang banyak digunakan saat ini, jatuh pada fisikawan Prancis – Jacques Arsene D’Arsonval. Beberapa tahun kemudian, Edward Weston cukup membuat beberapa perubahan untuk desain ini, dan melakukan improvisasi.” (Doni, 2014).
1.3. Jenis Galvanometer
Menurut (Cooper,1985) ada 2 jenis galvanometer yaitu:
a.       Galvanometer Balistik
Untuk mengukur fluksi maknit digunakan galvanometer balistik, dimana galvanometer ini bekerja menggunakan prinsip d’ Arsonval dan dirancang khusus untuk pemakaian selama 20 – 30 sekon dengan kepekaan tinggi. Pada pengukuran balistik ini, kumparan menerima suatu impuls arus sesaat, mengakibatkan kumparan berayun ke satu sisi dan kemudian kembali berhenti dalam gerakan berosilasi. Jika impuls arus berlangsung singkat, maka defleksi mula-mula dari posisi berhenti berbanding lurus dengan kuantitas pengosongan muatan listrik melalui kumparan. Nilai relatif impuls arus yang diukur dalam defleksi sudut mula-mula dari kumparan adalah :
Q = K θ
Dimana:
Q = muatan listrik ( coulomb )
K = kepekaan galvanometer ( coulomb / radian defleksi )
θ = defleksi sudut kumparan ( radian )
Harga kepekaan galvanometer ( K ), dipengaruhi oleh redaman dan besarnya diperoleh secara eksperimental, melalui pemeriksaan kalibrasi pada kondisi pemakaian yang nyata.
Untuk mengkalibrasi galvanometer, digunakan beberapa metoda, yaitu :
1. metoda kapasitor
2. metoda solenoid
3. metoda induktansi bersama.
Adapun prinsip pengukuran galvanometer balistik, antara lain: Jika maknit permanen dilepas dengan cepat dari kumparan, maka akan dihasilkan suatu impuls arus yang menyebabkan galvanometer menyimpang.
b.     Galvanometer Suspensi ( Suspension Galvanometer )
Pengukuran-pengukuran arus searah sebelumnya menggunakan galvanometer sistem gantungan, yang merupakan pelopor instrumen kumparan putar, sebagai dasar pada umumnya instrumen penunjuk arus searah yang dipakai secara luas saat ini. Dengan beberapa penyempurnaan, Galvanometer suspensi masih digunakan untuk pengukuran-pengukuran laboratorium sensitivitas tinggi tertentu, jika keindahan instrumen bukan merupakan masalah dan portabilitas bukan menjadi prioritas
1.4. Fungsi Galvanometer
Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung .Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt). Galvanometer alat yang digunakan untuk menentukan keberadaan, arah, dan kekuatan dari sebuah arus listrik dalam sebuah konduktor.
1.5. Modifikasi galvanometer
Alat Pendeteksi Kebohongan adalah alat yang digunakan untuk mengukur kebohongan melalui tingkat emosi seseorang. Kebohongan seseorang dapat terdeteksi melalui tingkat emosinya yang terlihat melalui pengukuran pada laju pernafasan, tekanan darah, frekuensi denyut nadi dan respon pada kulit. Di China, dahulu terdapat sebuah metode sederhana untuk mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak. Seorang yang di tes kebohongannya dipaksa untuk mengunyah tepung beras dan memuntahkannya. Bila tepung beras keluar dalam keadaan kering, maka orang tersebut dianggap berbohong. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa orang-orang yang berkata jujur dan bohong memiliki respon fisiologis yang berbeda. Penurunan produksi air liur diinterpretasikan sebagai hasil dari ketakutan karena berbohong. 

Sejarah Penemuan Alat Pendeteksi Kebohongan
Penemuan alat pendeteksi kebohongan berawal dari Amerika Serikat. Alat pendeteksi kebohongan juga dikenal dengan nama mesin polygraph. Mesin polygraph ditemukan pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902. Mesin polygraph adalah suatu instrumen yang secara bersamaan mencatat perubahan proses fisiologis seperti detak jantung dan tekanan darah.
Pada tahun 1921, John Larson menciptakan alat pendeteksi kebohongan yang lebih modern. John Larson meneliti berbagai instrumen yang tersedia serta metodologinya, Larson lantas memilih sphygmomanometer erlanger. Sphygmomanometer erlanger ialah alat untuk mengukur tekanan darah yang bekerja secara manual saat memompa dan mengurangi tekanan darah pada manset, seperti alat pengukur tekanan darah dalam medis. Sphygmomanometer erlanger dapat diubah untuk menghasilkan rekaman permanen dari tekanan darah dengan cara menggunakan kymograph. Kymograph ialah alat untuk mencatat atau melukiskan variasi tekanan atau gerakan, misalnya gerak gelombang denyut nadi dan tekanan darah.
Pada tahun 1924 Leonarde Keeler membuat instrumen alat pendeteksi kebohongan yang disebut dengan Emotograph. Emotograph adalah cara penanda yang secara otomatis menangkap data dan informasi yang memiliki sensor pada tubuh untuk mengukur denyut nadi, kulit, suhu dan konduktivitas listrik. Leonarde menggunakan papan tempat pemotong roti sebagai dasar untuk instrumen dan yang dikenal sebagai polygraph papan pemotong roti. Instrument Leonarde Keeler tersebut diberikan kepada John Larson untuk digunakan di kepolisian Berkeley.
Hasil penemuan Leonarde Keeler tersebut dimodifikasi oleh Chester W. Darrow dari Institute for Juvenile Research membuat modifikasi yang bernama Cardio Pneumo Psikografi, dengan menambahkan sebuah galvanometer. Galvanometer adalah alat pengukur kuat arus yang sangat lemah untuk menentukan keberadaan arah dan kekuatan dari sebuah arus listrik dalam sebuah konduktor. 

Macam Macam Sensor Pada Alat Pendeteksi Kebohongan : 
1. Sensor Laju Pernapasan : 
Berwujud tabung karet yang berisi udara dan diikatkan mengelilingi area perut atau dada. Ketika dada atau otot-otot perut mengembang untuk mengambil udara, udara di dalam tabung dipindahkan dalam bentuk grafik pada layar.
pneumograph
2. Sensor Tekanan Darah
Sebuah alat pengukur tekanan darah ditempatkan sekitar lengan. Alat ini mencatat perubahan-perubahan dalam tekanan darah dan dengan sebuah alat data tersebut dikirim dan dimunculkan dalam grafik.
polygraph
Galvanic Skin Resistance
Alat ini digunakan untuk mengukur aktivitas elektro-dermal dan pada dasarnya adalah pengukur dari keringat di ujung jari anda. Ujung jari adalah salah satu daerah yang paling berpori pada tubuh dan indikasinya adalah jika kita berkeringat maka kita sedang dalam tekanan dan alami muncul di saat berbohong. Sebuah galvanometer akan dipasangkan pada dua ujung jari subjek pemeriksaan. Sensor ini akan mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan listrik. Ketika kulit terhidrasi (seperti dalam keadaan berkeringat), kulit dapat menghantarkan listrik jauh lebih mudah dibandingkan pada saat kulit kering dan semua data data ini tercatat pula di grafik.
Lie detector - Galvanic Skin Resistance

Cara Kerja Alat Pendeteksi Kebohongan
Alat pendeteksi kebohongan pada dasarnya terdiri dari alat-alat medis yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. Seseorang akan ditanya tentang suatu peristiwa atau kejadian tertentu, sedangkan para pemeriksa akan melihat bagaimana perubahan detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan aktivitas elektro-dermal (keringat dari jari-jari tangan) yang dibandingkan dengan keadaan normal.
Kurva pada alat pendeteksi kebohongan
Kurva pada alat pendeteksi kebohongan
Perubahan pada parameter-parameter tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut sedang berbohong. Alat pendeteksi kebohongan akan menunjukan kebohongan pada sistem dalam bentuk gelombang. Bila seseorang sedang berbohong maka gelombang akan bergetar dengan cepat. Sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang akan bergetar secara perlahan atau bahkan tidak bergetar.
Saat seseorang sedang dites menggunakan alat pendeteksi kebohongan, maka orang tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah gambar grafik yang menunjukkan hasil-hasil dari pertanyaan yang diajukan. Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan di atas. Kadang-kadang alat pendeteksi kebohongan juga akan mencatat hal-hal seperti gerakan lengan dan kaki.
Ketika tes dengan alat pendeteksi kebohongan dimulai, sang penanya akan memberi 3 sampai 4 pertanyaan yang mudah dan sederhana dengan jawaban yang diketahui sebagai permulaan. Setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah seismograph pada pencatat bencana alam gempa bumi.
 1.6. Bagian-Bagian Galvanometer
Sebuah maknet permanen berbentuk sepatu kuda dengan potongan-potongan besi lunak menempel padanya.
1)      Antara potongan-potongan tersebut, terdapat sebuah silinder besi lunak yang berfungsi untuk menghasilkan medan maknet yang homogen.
2)      Kumparan yang dililitkan pada sebuah kerangka logam ringan dan dipasang sedemikian rupa hingga dapat berputar bebas di celah udara.
3)      Jarum penunjuk dipasang dibagian atas kumparan, bergerak sepanjang skala yang sudah dibagi-bagi dan menunjukkan defleksi sudut kumparan yang berarti juga menunjukkan arus melalui kumparan.
4)      Bentuk “ Y “ adalah pengatur nol ( zero adjust ) dan dihubungkan ke ujung tetap pegas pengatur depan.
5)      Sebuah pasak eksentrik ( pin ) yang menembus kotak instrumen yang memegang bagian “ Y “, sehingga posisi “ nol “ jarum dapat diatur dari luar.
6)      Dua pegas konduktif dari fosfor-perunggu biasanya berkekuatan sama, yang menghasilkan gaya terkalibrasi untuk melawan torsi kumparan putar dan prestasi pegas yang konstan dibutuhkan untuk mempertahankan ketelitian instrumen.
7)      Ketebalan pegas diperiksa secara teliti untuk mencegah kondisi pegas yang permanen ( eksitasinya hilang ). Arus dialirkan dari dan ke kumparan melalui pegas-pegas penghantar.
8)       Keseluruhan sistem yang berputar dibuat setimbang statis oleh tiga buah beban kesetimbangan untuk semua posisi defleksi, seperti ditunjukkan pada gambar
9)      Jarum, pegas dan titik putar ( pivot ) dirakit ke peralatan kumparan dengan menggunakan alas titik putar dan ditopang oleh bantalan jewel ( jewel bearing ), seperti ditunjukkan pada gambar 8. Jewel berbentuk “ V “ ditunjukkan pada gambar 8 a digunakan secara umum pada bantalan-bantalan instrumen dan mempunyai gesekan paling kecil diantara semua bantalan

2.      MULTITESTER
2.1. Pengertian Multitester
      Multitester adalah alat pengukur listrik yang juga sering disebut sebagai VOM (Volt-Ohm Meter).Pada kehidupan sehari-hari multitester dapat digunakan untuk mengukur tegangan (Volt meter), hambatan (Ohm meter) maupun arus (Ampere meter). Multitester ada 2 jenis yaitu multitester analog dan digital. Multitester analog menggunakan peraga jarum moving coil dan besaran ukur berdasarkan arus (elektronis dan non elektronis). Sedangkan multitester digital menggunakan peraga bilangan digital dan besaran ukur berdasarkan tegangan yang dikonversi ke sinyal digital.
Spesifikasi Multitester
a.       Batas Ukur dan Skala Tegangan searah  (DC&AC), arus (DC), dan resistensi
b.      Sensitivitas pengukuran tegangan
c.       sensitivitas pengukuran tegangan dalam ΩΩ/V/V
d.      ketelitian dalam %
e.       angkauan frekuensi tegangan bolak bolak-balik
f.       yang mampu diukur (misalnya antara 20 Hz -30 KHz)
g.      batere yang diperlukan (Choinisah, 2013).
2.2. Sejarah Multitester
      Pengenalan pertama multimeter menjadi alat uji utama untuk semua insinyur listrik dan radio, membuatnya menjadi instrumen terbaik dari jenisnya di Inggris dari tahun 1923 sampai setidaknya tahun 1960. Karena mudah dibawa kemana-mana, memungkinkan pengukuran di tempat yang jauh dari laboratorium dengan akurasi yang menjadi norma bagi semua insinyur tapi diadopsi di fasilitas penelitian untuk setiap hari kerja karena memiliki fitur, ukuran yang ringkas.
Sebelumnya, instrumen ini masing-masing fungsinya memerlukan peralatan yang kompleks dan terpisah dimana tidak dapat terpisah dengan laboratorium. Ringkasnya, terdapat standar yang baru yang dapat dikontrol dan memiliki beragam perangkat modern yang berjalan pada tahun 1970-an dan seterusnya. Banyak insinyur masih memilikinya dan masih memanfaatkannya. Multimeter memainkan peran besar dalam keberhasilan teknologi bergantung pada akurasi dan dapat diandalkan dalam lingkungan apapun(Anonim,2011)
2.3. Jenis Multitester
Menurut (Renald, 2012) jenis multitester ada dua yaitu:
a.       Multitester Analog
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0Srjb7PFd6tCnjay_4e1nwqhf3ttUe73d1Cf2YUaTjWmPWSQwsAjoV0jJXhV6Tv6J83X4kDsZbdM4LMOQjLLDOazRLFYKl_hqL1BYxvGS_ZfTjImvPO_emsa58kYDVVfyNIHQxzC_7Pft/s1600/download.jpg
Multimeter analog lebih banyak dipakai untuk kegunaan sehari-hari, seperti para tukang servis TV atau komputer kebanyakan menggunakan jenis yang analog ini. Kelebihannya adalah mudah dalam pembacaannya dengantampilan yang lebih simple. Sedangkan kekurangannya adalah akurasinya rendah, jadi untuk pengukuran yang memerlukan ketelitian tinggi sebaiknya menggunakan multimeter digital.
b.      Multitester Digital
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPjLqIJENhjtAOrUcM41ejV9mmjKNwp9iPlsjIx29rcH8XXiWJ5GWeid_QVURRlO-I240v3lLFPx5-iey8M_lX4SdaZ7Kacm-OXf7LaFnEpDZxP0qfqQDCCv64l_6dtbSVzY-PKMdq1jpL/s1600/download+(1).jpg
Multimeter digital memiliki akurasi yang tinggi, dan kegunaan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan multimeter analog. Yaitu memiliki tambahan-tambahan satuan yang lebih teliti, dan juga opsi pengukuran yang lebih banyak, tidak terbatas pada ampere, volt, dan ohm saja. Multimeter digital biasanya dipakai pada penelitian atau kerja-kerja mengukur yang memerlukan kecermatan tinggi, tetapi sekarang ini banyak juga bengkel-bengkel komputer dan service center yang memakai multimeter digital.
Kekurangannya adalah susah untuk memonitor tegangan yang tidak stabil. Jadi bila melakukan pengukuran tegangan yang bergerak naik-turun, sebaiknya menggunakan multimeter analog.
2.4. Fungsi Multitester
Menurut (Choinisah, 2013) fungsi multitester yaitu:
a.       Alat ukur arus searah
Ammeter arus searah (DC ammeter) dipergunakan untuk mengukur arus searah. Alat ukur ini dapat berupa amperemeter, milliamperemeter dan galvanometer. Dalam mempergunakan ammeter arus searah perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
1)      Ammeter tidak boleh dipasang sejajar (paralel) dengan sumber daya
2)      Ammeter harus dipasang seri dengan rangkaian yang diukur arusnya
3)      Polaritas (tanda + dan -)
b.      Alat  ukur tegangan searah
Suatu alat ukur tegangan searah umumnya terdiri dari: meter dasar (Amperemeter) dan rangkaian tambahan untuk memperoleh hubungan antara tegangan searah yang diukur dengan arus searah yang mengalir melalui meter dasar. Meter dasar merupakan suatu alat yang bekerja (merupakan stator), dan suatu kumparan yang akan dilalui arus yang bebas bergerak dalam medan magnet tetap tersebut.
c.       Alat ukur tegangan bolak-balik
Pada dasarnya voltmeter bolak-balik terdiri dari: rangkaian penyearah, meter dasar (misalnya µA-meter searah) dan resistor seri.
d.      Alat ukur resistansi
Secara umum suatu rangkaian ohmmeter terdiri dari meter dasar berupa miliammeter/mikroammeter arus searah, beberapa buah resistor dan potensiometer serta suatu sumber tegangan searah/batere. Kita mengenal dua macam ohmmeter, yaitu ohmmeter seri dan ohmmeter paralel.
rangkaian dasar ohmmeter
Multimeter dapat juga dipergunakan untuk mengukurbesaran-besaran (atau sifat-sifat komponen) secara tidak langsung).
Beberapa contoh diantaranya adalah:
a.       mengukur polaritas dan baik buruknya dioda secara sederhana
b.      mengetahui baik buruknya transistor secara sederhana
c.       mengukur kapasitansi
d.      mengukur induktansi
Fungsi multimeter dengan kategori Digital Multimeter adalah sebagai berikut :
1.      Menguji dioda dengan tujuan untuk mendeteksi tingkat kerusakan akibat suatu hal yang tidak kita ketahui
2.      Menguji kondensator
3.      Menguji transformator
4.      Mengukur tegangan DC
5.      Mengukur arus DC
6.      Mengukur tegangan AC
7.      Pengecekan hubungan singkat
8.      Menguji transistor PNP
9.      Menguji kapasitor elektrolit
10.  Pengukur resistansi pada multimeter
11.  Penguji transistor NPN
Dan yang terakhir adalah Fungsi Multimeter Analog, multimeter jenis ini sangat mirip dengan digital multimeter, multimeter jenis ini biasa digunakan oleh kita pada umumnya karena lebih mudah membacanya karena memang multimeter jenis ini termasuk multimeter yang lebih simpel dan mudah. Tetapi bagi anda yang ingin meneliti sesuatu secara mendetail, disarankan menggunakan Digital Multimeter.

2.5. Modifikasi Multitester
Digital multimeter circuit diagram modifikasi digital multimeter circuit diagram biasanya banyak Sekali kita temukan diacara balap motor yang banyak diselenggrakan di Indonesia. diacara balap motor drag tersebut biasanya motor yang ikut dan alam kompetisi adalah motor-motor yg memang sudah dimodifikasi sehingga motor yang biasanya masih standar akan menjadimotor yang seakan tinggal tulangan motor Itu Saja. Selain itu jugabiasanya keepatan mesin motor yang standar akanberubah menjadi sangat cepat yang telah disetel oleh bengkel yang memang menangani motor itu sebelum mengikuti kontes balap.
Blue Point Multimeter Manual adalah salah satu dari beberapa contoh foto/gambar modifikasi dari topik yang telah kita bahas sebelumnya pada Modifikasi Kawasaki Kaze R yang terdapat pada situs termodifikasi.net. Termodifikasi.net adalah salah satu situs dari ratusan situs yang menyajikan berbagai contoh gaya modif kuda besi. Memperlihatkan berbagai foto dan gambar Blue Point Multimeter hasil modif motor dengan berbagai varian yang berbeda, sesuai aliran terbaru saat ini tahun 2015. Sobat bikers dapat dengan jelas melihat-lihat modifikasi Blue Point Multimeter Manual yang lain. koleksi gambar, foto, desain baru dan konsep gaya modifikasi motor baru yang inspiratif kami harap dapat membantu sobat bikers dalam memodif motor.
Selain gambar Blue Point Multimeter Manual, kamu juga dapat melihat koleksi gambar kami lainnya yang berhubungan dengan Blue Point Multimeter Manual. Kamu dapat dengan mudah meng klik pada gambar atau foto selain Blue Point Multimeter yang tersedia di bawah ini, atau kamu juga dapat dengan gampang kembali ke artikel bahasan sebelumnya Modifikasi Kawasaki Kaze R untuk mencari ide atau inspirasi baru lainnya. Kami harap gambar/ foto yang kami sediakan berikut bermanfaat dan dapat membantu kamu mendapatkan inspirasi baru terkait Blue Point Multimeter Manual untuk modifikasi motor kamu.

2.6. Bagian-Bagian Alat Multitester
Bagian Multimeter
a.       Papan Skala : digunakan untuk membaca hasil pengukuran. Pada papan skala terdapat skala-skala; tahanan/resistan (resistance) dalam satuan Ohm (Ω), tegangan (ACV dan DCV), kuat arus (DCmA), dan skala-skala lainnya.
b.      Saklar Jangkauan Ukur : digunakan untuk menentukan posisi kerja multimeter , dan batas ukur (range). Jika digunakan untuk mengukur nilai satuan tahanan (dalam W), saklar ditempatkan pada posisi W, demikian juga jika digunakan untuk mengukur tegangan (ACV-DCV), dan kuat arus (mA-mA). Satu hal yang perlu diingat, dalam mengukur tegangan listrik, posisi saklar harus berada pada batas ukur yang lebih tinggi dari tegangan yang akan diukur. Misal, tegangan yang akan diukur 220 ACV, saklar harus berada pada posisi batas ukur 250 ACV. Demikian juga jika hendak mengukur DCV.
c.       Sekrup Pengatur Posisi Jarum (preset) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol (sebelah kiri papan skala).
d.      Tombol Pengatur Jarum Pada Posisi Nol (Zero Adjustment) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol sebelum  multimeter  digunakan untuk mengukur nilai tahanan/resistan. Dalam praktek, kedua ujung kabel penyidik (probes) dipertemukan, tombol diputar untuk memosisikan jarum pada angka nol.
e.       Lubang Kabel Penyidik : tempat untuk menghubungkan kabel penyidik dengan Multimeter. Ditandai dengan tanda (+) atau out dan (-) atau common. Pada  multimeter  yang lebih lengkap terdapat juga lubang untuk mengukur hfe transistor (penguatan arus searah/DCmA oleh transistor berdasarkan fungsi dan jenisnya), dan lubang untuk mengukur kapasitas kapasitor.
f.       Posisi ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
g.      Posisi DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
h.      Posisi DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi sebagai mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 500.
i.        Terminal, berfungsi sebagai W(9) Lubang kutub + (V A tempat masuknya test lead kutub + yang berwarna merah.
j.        Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead kutub – yang berwarna hitam.
k.      Saklar pemilih polaritas (Polarity Selector Switch), berfungsi untuk memilih polaritas DC atau AC.
l.        Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-komponen multimeter.
m.    Jarum penunjuk meter (Knife – edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk besaran yang diukur.
n.      Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.


2.      OSILOSKOP
3.1. Pengertian  Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur Elektronik yang dapat memetakan atau memproyeksikan sinyal listrik dan frekuensi menjadi gambar grafik agar dapat dibaca dan mudah dipelajari. Dengan menggunakan Osiloskop, kita dapat mengamati dan menganalisa bentuk gelombang dari sinyal listrik atau frekuensi dalam suatu rangkaian Elektronika. Pada umumnya osiloskop dapat menampilkan grafik Dua Dimensi (2D) dengan waktu pada sumbu X dan tegangan pada sumbu Y(Faiks,2014).
3.2. Sejarah Osiloskop
Karl Ferdinand Braun (Fulda, 6 Juni 1850 – New York, 20 April 1918) adalah seorang fisikawan Jerman. Braun belajar di Universitas Marburg dan menerima gelar di Universitas Berlin pada tahun 1872. Ia menjadi direktur di Lembaga Fisika dan profesor fisika di Strasbourg (1895). Pada tahun 1897, ia membuat oskiloskop tabung sinar katoda pertama. Teknik ini digunakan oleh sebagian besar peralatan TV dan monitor komputer. Tabung katode masih disebut “tabung Braun” (Braunsche Röhre) di negara penutur bahasa Jerman (dan di Jepang: Buraun-kan). Pada tahun 1909 Braun menerima Penghargaan Nobel dalam Fisika dengan Guglielmo Marconi untuk “sumbangan pada pengembangan telegrafi nirkabel.” Pada awal Perang Dunia I Braun pindah ke Amerika Serikat untuk mempertahankan stasiun nirkabel Jerman yang terletak di Sayville (Long Island) terhadap serangan oleh Marconi Corporation yang dikendalikan Inggris (saat itu AS belum terjun dalam perang). Braun meninggal di rumahnya di Brooklyn sebelum perang berakhir, pada tahun 1918 (Rilo, 2014).


3.3. Jenis Osiloskop
Menurut (Fery,2015) berdasarkan jenisnya osiloskop di bagi menjadi 2 yaitu:
a.       Osiloskop Analog
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp-oIT_XJiwwVcDJyUxigqPt754HE7GxYySKSe50q-Fk0_D06TL-9qAzfwIxBW7VvvqDYJKfOSbC5ju7tTZwDr5lBK90Nh1_b9YLDgIt2tKr0JB09q1NcVGFngY0LWH_-Ff1d8HkhkR8E/s320/osiloskop.jpg
Osiloskop tipe waktu nyata analog (ART) menggambar bentuk-bentuk gelombang listrik dengan melalui gerakan pancaran electron (electron beam) dalam sebuah tabung sinar katoda (CRT – Cathode Ray Tube) dari kiri ke kanan. Pancaran electron dari bagian senapan electron (electron gun) yang membentur atau menumbuk dinding dalam tabung tersebut Mengeksitasi electron dalam lapisan fosfor pada layar tabung mengeksitasi electron dalam lapisan fosfor pada layar tabung sehingga terjadi perpendaran atau nyala pada layar yang menggambarkan bentuk dasar gelombang. Dalam perjalanannya dari senapan electron menuju layar yang berfosfor tadi, electron-elektron dipengaruhi oleh medan listrik dalam arah vertical (ke atas maupun ke bawah) oleh sepasang pelat pembelok (defleksi) vertical dan dalam arah horizontal oleh sepasang pelat defleksi horizontal. Apabila tegangan pada semua pelat tersebut nol Volt, electron akan berjalan lurus membentuk layar sehingga hanya terlihat sebuah bintik nyala di ditengah layar saja. Untuk “membuat” gambar garis pada layar, diperlukan gelombang gigi gergaji yang diberikan kepada pasangan pelat horizontal tersebut. Tegangan gigi gergaji ini dihasilkan oleh time base generator/sweep generator atau generator sapu, yang kemudian diperkuat oleh penguat horizontal. Tegangan gigi gergaji ini naik secara linier terhadap waktu sehingga berkas electron pada layar bergerak dari kiri ke kanan. Setelah sampai di bagian paling kanan layar, tegangan gigi gergaji turun dengan cepat ke nol sehingga memulai gerakan berulang dari bagian kiri layar. Gerakan balik yang cepat ini tidak dapat ditangkap oleh mata sehingga yang terlihat adalah gambar garis horizontal lurus pada layar yang tidak terputus. Agar osiloskop dapat menggambarkan bentuk gelombang yang sedang diamati maka gelombang tersebut diumpankan ke rangkaian vertical. Rangkaian vertical ini berfungsi memperkuat atau melemahkan simpangan vertical dari gelombang masukan, sehingga tegangan yan g diberikan ke pasangan pelat defleksi vertical menghasilkan medan listrik yang dapat mempengaruhi gerakan vertical electron secara proposional selagi ia bergerak menuju ke layar, yang berakibat bentuk gelombang pada layar dapat diperbesar atau diperkecil. Karena arah gerak electron berdasar vector medan listrik horizontal dan vertical, CRT nya disebut direcdt viev vector CRT.
Agar gambar pada layar dapat stabil, digunakan rangkaian picu (trigger). Jika suatu gelombang listrik dihubungkan ke ART, rangkaian picu akan memonitor gelombang masukan tersebut dan menunggu event – yakni saat terjadinya peristiwa atau kondisi yang dapat dipakai untuk pemicuan. Event picu ini berupa suatu sisi atau tebing gelombang yang memenuhi persyaratan yang telah didefinisikan atau ditentukan melalui suatu pilihan tombol pada panel depan osiloskop. Sekali event picu ini terjadi, osiloskop akan menstart generator sapu dan meragakan bentuk gelombang yang sedang diukur. Proses ini akan berulang sepanjang osiloskop tersebut dapat mendeteksi event-event picu. Selain menyangkut vertical dan horizontal, osiloskop analog mempunyai dimensi ketiga yang disebut dengan gray scaling (skala/tingkatan atau intensitas kelabu). Tingkatan kelabu ini diciptakan intensitas pancaran electron pada tabung gambar, yang meragakan detil gambar bagian tertentu secara sekilas saja. Kondisi ini terjadi karena kecepatan pancaran electron mempengaruhi kecerahan jejaknya. Makin cepat pancaran bergerak dari satu titik ke titik yang lain pada bagian tertentu, makin sedikit waktu ia dapat mengeksitasi electron-elektron pada fosfor yang terdapat pada dinding layar. Akibatnya jejak yang membentuk gambar gelombang abgian tersebut akan lebih redup daripada gambar bagian gelombang yang lainnya. .
Skala kelabu ini juga menunjukan frekuensi relative dari event-event individual (gejala khusus) yang terjadi dalam suatu gelombang yang sifatnya berulang (repetitif). Pancaran electron yang menggambarkan bagian gelombang yang bentuknya sama secara berulang akan menyebabkan bagian yang dapat tergambar dengan terang di layar, sedangkan event lekuk gelombang yang jarang terjadi akan mendapat lebih sedikit waktu eksitasi. Akhirnya menjadi jelas bahwa daerah dari lapisan fosfor yang dirangsang/dieksitasi secara berulang Nampak lebih terang daripada daerah yang kurang distimulasi.
b.      Osiloskop Digital.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhalI71XIZcDwmjLRzmCuyopqtdcJvnlV_ClBc3LCD2CwBHMk8B2r6GvyjBdFjAoS7ffi07LImhPo09i_7DgnBWu0IP-DS43LtRBp1qwoLf7TUr8WnWOCu43Srdf-hQ3TflP6hrgUeEqWE/s320/digital+osiloskop.jpg
Jika dalam osiloskop analog gelombang yang akan ditampilkan langsung diberikan ke rangkaian vertikal sehingga berkesan “diambil” begitu saja (real time), maka dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih dulu disampling (dicuplik) dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai tegangan ini bersama sama dengan skala waktu gelombangnya di memori. Pada prinsipnya, osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian banyak nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai dihentikan. .
DSO mempunyai dua cara untuk menangkap atau mencuplik gelombang, yakni dengan teknik single shot atau real time sampling. Dengan kedua teknik ini, osiloskop memperoleh semua cuplikan dengan satu event picu. Sayangnya laju cuplik DSO membatasi lebar pita osiloskop ketika beroperasi dalam waktu nyata (real time). Secara teori (sesuai dengan Nyquist samplinjg theorema), osiloskop digital membutuhkan masuka dengan sekurang-kurangnya dua cuplikan per periode gelombang untuk merekontruksi suatu bentuk gelombang. Dalam praktek, tiga atau lebih cuplikan per periode menjamin akurasi akuisisi. Jika pencuplik tidak dapat sama cepat dengan sinyal masukannya, osiloskop tidak akan dapat mengumpulkan suatu jumlah yang cukup berakibat menghasilkan suatu peragaan yang lain dari bentuk gelombang aslinya. Yakni osiloskop akan menggambarkan struktur keseluruhan sinyal masukan pada suatu frekuensi yang jauh lebih rendah dari frekuensi sinyal sesungguhnya. .
Kebanyakan DSO, apakah ia menggunakan teknik real time atau equivalent time akan mencuplik pada laju maksimum tanpa mengacu berapa dasar waktu (time base) yang dipilih. Pada kecepatan sapuan yang lebih rendah osiloskop digital menerima jauh lebih banyak cuplikan daripada yang dapat disimpannya. Tergantung pada model akuisisi yang kita pilih, suatu DSO akan membuang cuplikan ekstra atau menggunakannya untuk pemprosesan sinyal-sinyal tambahan seperti deteksi puncak gelombang (peak detect), maupun sampul gelombang (envelope).
3.4. Fungsi Osiloskop
Menurut (Faiks,2014).
1.      Untuk menyelidiki gejala yang bersifat periodik.
2.      Untuk melihat bentuk gelombang kotak dari tegangan
3.      Untuk menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika
4.      Dapat melihat amplitudo tegangan, periode, frekuensi dari sinyal yang tidak diketahui
5.      Untuk melihat harga-harga momen tegangan dalam bentuk sinus maupun bukan sinus
6.      Digunakan untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu, yang ditampilkan pada layar
7.      Mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
8.      Mengukur keadaan perubahan aliran (phase) dari sinyal input
9.      Mengukur Amlitudo Modulasi yang dihasilkan oleh pemancar radio dan generator  pembangkit sinyal
10.  Mengukur tegangan AC/DC dan menghitung frekuensi
3.5 Modifikasi Osiloskop
Bikin Osiloskop Menggunakan Laptop
aplikasi untuk menjadikan laptop / PC sebagai Osiloskop dengan bantuan beberapa komponen sebagai antarmuka (interface) nya.
Bahan yang diperlukan:
  • Resistor 22K ohm : 2 buah
  • Resistor 82K ohm : 2 buah
  • Potensiometer 50K Linear : 1 buah + Knop pemutarnya
  • Kabel Shield Stereo : 1 meter
  • Jack Stereo 3.5mm : 1 buah
  • Terminal Tester
           
 Keterangan skema:
  • Resistor 22K berfungsi sebagai batas pengaman tegangan yang masuk ke soundcard Laptop.
  • Potensiometer berfungsi sebagai penahan tegangan masuk, apabila tegangan yang digunakan lebih dari 5volt, maka potensiometer perlu di geser agar soundcard tidak rusak akibat kelebihan tegangan input.
  • Gunakan kabel audio terselubung (Shielded Wire) agar dapat terlindung dari sinyal / induksi dari sekitar kabel tersebut.

Rangkaian setelah disolder           Box kecil dipilih sebagai kemasan unit interface ini

  tampak bagian dalam setelah komponen dipasang..
            
                        
           
                 

               

Gunakan Laptop yang ada LINE-IN/MIC inputnya

Masukkan Jack Stereo ke LINE-IN/MI

            




APLIKASI OSILOSKOP
Aplikasi ini Trial-14hari, yang dapat di beli dengan harga tidak lebih dari seratus ribu rupiah ($9.95 USD).
    

Contoh noise dari charger/adaptor laptop.. Contoh sinyal dari charger handphone (sinyal gigi gergaji)

            

3.5 Bagian-Bagian Osiloskop
Menurut (Faiks, 2014) bagian-bagian osiloskop meliputi:
osiloskopASA
1.      Volt atau div : Untuk mengeluarkan tegangan AC.
2.      CH1 (Input X) : Untuk memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan posisi horisontal.
3.      AC-DC : Untuk memilih besaran yang diukur.
4.      Ground : Untuk memilih besaran yang diukur.
5.      Posisi Y : Untuk mengatur posisi garis atau tampilan dilayar atas bawah.
6.      Variabel : Untuk kalibrasi osciloskop.
7.      Selektor pilih : Untuk memilih Chanel yang diperlukan untuk pengukuran.
8.      Layar : Menampilkan bentuk gelombang.
9.      Inten : Mengatur cerah atau tidaknya sinar pada layar Osiloskop.
10.  Rotatin : Mengaur posisi garis pada layar.
11.  Fokus : Menajamkan garis pada layar.
12.  Position X : Mengatur posisi garis atau tampilan kiri dan kanan.
13.  Sweep time/ div : Digunakan untuk mengatur waktu periode (T) dan Frekwensi ( f ).
14.  Mode : untuk memilih mode yang ada.
15.  Variabel : Untuk kalibrasi waktu periode dan frekwensi.
16.  Level Menghentikan gerak tampilan layar.
17.  Exi Trigger : Untuk trigger dari luar.
18.  Power : untuk menghidupkan Osciloskop.
19.  Cal 0,5 Vp-p : Kalibrasi awal sebelum Osciloskop digunakan.
20.  Ground Osciloskop yang dihubungkan dengan ground yang diukur.
21.  CH2 ( input Y ): Untuk memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan Vertikal.





 .














                                   DAFTAR PUSTAKA
Cooper, D, William. 1985. Instrumentasi elektronik dan teknik pengukuran. Jakarta: Erlangga.
pada tanggal 30 maret 2016.

Pada tanggal 30 maret 2016












1.      Galvanometer
1.1. Pengertian Galvanometer
      Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung. Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt) (Anonim,2011).
1.2. Sejarah Galvanometer
      Sejarah galvanometer dapat ditelusuri kembali pada  tahun 1820, ketika fisikawan Denmark- Hans Christian Oersted mencatat bahwa jarum magnetik akan dibelokkan ketika mengalami kontak dengan arus listrik. Ketika sebuah arus listrik yang lewat melalui konduktor, maka jarum magnetis cenderung berbelok ke kanan di sudut menuju konduktor, sehingga dengan arah yang paralel dengan baris induksi sekitar konduktor dan utara tiang poin dalam arah yang ini baris induksi mengalir. Secara umum, sejauh mana jarum bergerak  adalah bergantung pada kekuatan yang sekarang. Dalam galvanometers pertama, jarum magnetis yang berputar bebas adalah hung dalam lilitan dari kawat. Pengamatan oleh Oersted kemudian menjadi prinsip dasar dari kerja sebuah galvanometer. Pada tahun yang sama, fisikawan Jerman – Johann Schweigger bekerja dengan prinsip ini, dan dengan kemunculan galvanometer pertama. Hak untuk penemuan galvanometer bergerak-kumparan pertama, yang banyak digunakan saat ini, jatuh pada fisikawan Prancis – Jacques Arsene D’Arsonval. Beberapa tahun kemudian, Edward Weston cukup membuat beberapa perubahan untuk desain ini, dan melakukan improvisasi.” (Doni, 2014).
1.3. Jenis Galvanometer
Menurut (Cooper,1985) ada 2 jenis galvanometer yaitu:
a.       Galvanometer Balistik
Untuk mengukur fluksi maknit digunakan galvanometer balistik, dimana galvanometer ini bekerja menggunakan prinsip d’ Arsonval dan dirancang khusus untuk pemakaian selama 20 – 30 sekon dengan kepekaan tinggi. Pada pengukuran balistik ini, kumparan menerima suatu impuls arus sesaat, mengakibatkan kumparan berayun ke satu sisi dan kemudian kembali berhenti dalam gerakan berosilasi. Jika impuls arus berlangsung singkat, maka defleksi mula-mula dari posisi berhenti berbanding lurus dengan kuantitas pengosongan muatan listrik melalui kumparan. Nilai relatif impuls arus yang diukur dalam defleksi sudut mula-mula dari kumparan adalah :
Q = K θ
Dimana:
Q = muatan listrik ( coulomb )
K = kepekaan galvanometer ( coulomb / radian defleksi )
θ = defleksi sudut kumparan ( radian )
Harga kepekaan galvanometer ( K ), dipengaruhi oleh redaman dan besarnya diperoleh secara eksperimental, melalui pemeriksaan kalibrasi pada kondisi pemakaian yang nyata.
Untuk mengkalibrasi galvanometer, digunakan beberapa metoda, yaitu :
1. metoda kapasitor
2. metoda solenoid
3. metoda induktansi bersama.
Adapun prinsip pengukuran galvanometer balistik, antara lain: Jika maknit permanen dilepas dengan cepat dari kumparan, maka akan dihasilkan suatu impuls arus yang menyebabkan galvanometer menyimpang.
b.     Galvanometer Suspensi ( Suspension Galvanometer )
Pengukuran-pengukuran arus searah sebelumnya menggunakan galvanometer sistem gantungan, yang merupakan pelopor instrumen kumparan putar, sebagai dasar pada umumnya instrumen penunjuk arus searah yang dipakai secara luas saat ini. Dengan beberapa penyempurnaan, Galvanometer suspensi masih digunakan untuk pengukuran-pengukuran laboratorium sensitivitas tinggi tertentu, jika keindahan instrumen bukan merupakan masalah dan portabilitas bukan menjadi prioritas

1.4. Fungsi Galvanometer
Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung .Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt). Galvanometer alat yang digunakan untuk menentukan keberadaan, arah, dan kekuatan dari sebuah arus listrik dalam sebuah konduktor.
1.5. Modifikasi galvanometer
Alat Pendeteksi Kebohongan adalah alat yang digunakan untuk mengukur kebohongan melalui tingkat emosi seseorang. Kebohongan seseorang dapat terdeteksi melalui tingkat emosinya yang terlihat melalui pengukuran pada laju pernafasan, tekanan darah, frekuensi denyut nadi dan respon pada kulit. Di China, dahulu terdapat sebuah metode sederhana untuk mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak. Seorang yang di tes kebohongannya dipaksa untuk mengunyah tepung beras dan memuntahkannya. Bila tepung beras keluar dalam keadaan kering, maka orang tersebut dianggap berbohong. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa orang-orang yang berkata jujur dan bohong memiliki respon fisiologis yang berbeda. Penurunan produksi air liur diinterpretasikan sebagai hasil dari ketakutan karena berbohong. 
https://scontent-nrt1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfa1/v/t1.0-9/253534_162864997112146_6434964_n.jpg?oh=2114df6ebfc9346d4748d63a6ec69ddd&oe=57897959

Sejarah Penemuan Alat Pendeteksi Kebohongan
Penemuan alat pendeteksi kebohongan berawal dari Amerika Serikat. Alat pendeteksi kebohongan juga dikenal dengan nama mesin polygraph. Mesin polygraph ditemukan pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902. Mesin polygraph adalah suatu instrumen yang secara bersamaan mencatat perubahan proses fisiologis seperti detak jantung dan tekanan darah.
Pada tahun 1921, John Larson menciptakan alat pendeteksi kebohongan yang lebih modern. John Larson meneliti berbagai instrumen yang tersedia serta metodologinya, Larson lantas memilih sphygmomanometer erlanger. Sphygmomanometer erlanger ialah alat untuk mengukur tekanan darah yang bekerja secara manual saat memompa dan mengurangi tekanan darah pada manset, seperti alat pengukur tekanan darah dalam medis. Sphygmomanometer erlanger dapat diubah untuk menghasilkan rekaman permanen dari tekanan darah dengan cara menggunakan kymograph. Kymograph ialah alat untuk mencatat atau melukiskan variasi tekanan atau gerakan, misalnya gerak gelombang denyut nadi dan tekanan darah.
Pada tahun 1924 Leonarde Keeler membuat instrumen alat pendeteksi kebohongan yang disebut dengan Emotograph. Emotograph adalah cara penanda yang secara otomatis menangkap data dan informasi yang memiliki sensor pada tubuh untuk mengukur denyut nadi, kulit, suhu dan konduktivitas listrik. Leonarde menggunakan papan tempat pemotong roti sebagai dasar untuk instrumen dan yang dikenal sebagai polygraph papan pemotong roti. Instrument Leonarde Keeler tersebut diberikan kepada John Larson untuk digunakan di kepolisian Berkeley.
Hasil penemuan Leonarde Keeler tersebut dimodifikasi oleh Chester W. Darrow dari Institute for Juvenile Research membuat modifikasi yang bernama Cardio Pneumo Psikografi, dengan menambahkan sebuah galvanometer. Galvanometer adalah alat pengukur kuat arus yang sangat lemah untuk menentukan keberadaan arah dan kekuatan dari sebuah arus listrik dalam sebuah konduktor. 

Macam Macam Sensor Pada Alat Pendeteksi Kebohongan : 
1. Sensor Laju Pernapasan : 
Berwujud tabung karet yang berisi udara dan diikatkan mengelilingi area perut atau dada. Ketika dada atau otot-otot perut mengembang untuk mengambil udara, udara di dalam tabung dipindahkan dalam bentuk grafik pada layar.
pneumographpneumograph
2. Sensor Tekanan Darah
Sebuah alat pengukur tekanan darah ditempatkan sekitar lengan. Alat ini mencatat perubahan-perubahan dalam tekanan darah dan dengan sebuah alat data tersebut dikirim dan dimunculkan dalam grafik.
polygraphpolygraph
Galvanic Skin Resistance
Alat ini digunakan untuk mengukur aktivitas elektro-dermal dan pada dasarnya adalah pengukur dari keringat di ujung jari anda. Ujung jari adalah salah satu daerah yang paling berpori pada tubuh dan indikasinya adalah jika kita berkeringat maka kita sedang dalam tekanan dan alami muncul di saat berbohong. Sebuah galvanometer akan dipasangkan pada dua ujung jari subjek pemeriksaan. Sensor ini akan mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan listrik. Ketika kulit terhidrasi (seperti dalam keadaan berkeringat), kulit dapat menghantarkan listrik jauh lebih mudah dibandingkan pada saat kulit kering dan semua data data ini tercatat pula di grafik.
Lie detector - Galvanic Skin ResistanceLie detector - Galvanic Skin Resistance

Cara Kerja Alat Pendeteksi Kebohongan
Alat pendeteksi kebohongan pada dasarnya terdiri dari alat-alat medis yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. Seseorang akan ditanya tentang suatu peristiwa atau kejadian tertentu, sedangkan para pemeriksa akan melihat bagaimana perubahan detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan aktivitas elektro-dermal (keringat dari jari-jari tangan) yang dibandingkan dengan keadaan normal.
Kurva pada alat pendeteksi kebohongan
Kurva pada alat pendeteksi kebohongan
Perubahan pada parameter-parameter tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut sedang berbohong. Alat pendeteksi kebohongan akan menunjukan kebohongan pada sistem dalam bentuk gelombang. Bila seseorang sedang berbohong maka gelombang akan bergetar dengan cepat. Sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang akan bergetar secara perlahan atau bahkan tidak bergetar.
Saat seseorang sedang dites menggunakan alat pendeteksi kebohongan, maka orang tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah gambar grafik yang menunjukkan hasil-hasil dari pertanyaan yang diajukan. Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan di atas. Kadang-kadang alat pendeteksi kebohongan juga akan mencatat hal-hal seperti gerakan lengan dan kaki.
Ketika tes dengan alat pendeteksi kebohongan dimulai, sang penanya akan memberi 3 sampai 4 pertanyaan yang mudah dan sederhana dengan jawaban yang diketahui sebagai permulaan. Setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah seismograph pada pencatat bencana alam gempa bumi.
 1.6. Bagian-Bagian Galvanometer
Sebuah maknet permanen berbentuk sepatu kuda dengan potongan-potongan besi lunak menempel padanya.
1)      Antara potongan-potongan tersebut, terdapat sebuah silinder besi lunak yang berfungsi untuk menghasilkan medan maknet yang homogen.
2)      Kumparan yang dililitkan pada sebuah kerangka logam ringan dan dipasang sedemikian rupa hingga dapat berputar bebas di celah udara.
3)      Jarum penunjuk dipasang dibagian atas kumparan, bergerak sepanjang skala yang sudah dibagi-bagi dan menunjukkan defleksi sudut kumparan yang berarti juga menunjukkan arus melalui kumparan.
4)      Bentuk “ Y “ adalah pengatur nol ( zero adjust ) dan dihubungkan ke ujung tetap pegas pengatur depan.
5)      Sebuah pasak eksentrik ( pin ) yang menembus kotak instrumen yang memegang bagian “ Y “, sehingga posisi “ nol “ jarum dapat diatur dari luar.
6)      Dua pegas konduktif dari fosfor-perunggu biasanya berkekuatan sama, yang menghasilkan gaya terkalibrasi untuk melawan torsi kumparan putar dan prestasi pegas yang konstan dibutuhkan untuk mempertahankan ketelitian instrumen.
7)      Ketebalan pegas diperiksa secara teliti untuk mencegah kondisi pegas yang permanen ( eksitasinya hilang ). Arus dialirkan dari dan ke kumparan melalui pegas-pegas penghantar.
8)       Keseluruhan sistem yang berputar dibuat setimbang statis oleh tiga buah beban kesetimbangan untuk semua posisi defleksi, seperti ditunjukkan pada gambar
9)      Jarum, pegas dan titik putar ( pivot ) dirakit ke peralatan kumparan dengan menggunakan alas titik putar dan ditopang oleh bantalan jewel ( jewel bearing ), seperti ditunjukkan pada gambar 8. Jewel berbentuk “ V “ ditunjukkan pada gambar 8 a digunakan secara umum pada bantalan-bantalan instrumen dan mempunyai gesekan paling kecil diantara semua bantalan

2.      MULTITESTER
2.1. Pengertian Multitester
      Multitester adalah alat pengukur listrik yang juga sering disebut sebagai VOM (Volt-Ohm Meter).Pada kehidupan sehari-hari multitester dapat digunakan untuk mengukur tegangan (Volt meter), hambatan (Ohm meter) maupun arus (Ampere meter). Multitester ada 2 jenis yaitu multitester analog dan digital. Multitester analog menggunakan peraga jarum moving coil dan besaran ukur berdasarkan arus (elektronis dan non elektronis). Sedangkan multitester digital menggunakan peraga bilangan digital dan besaran ukur berdasarkan tegangan yang dikonversi ke sinyal digital.
Spesifikasi Multitester
a.       Batas Ukur dan Skala Tegangan searah  (DC&AC), arus (DC), dan resistensi
b.      Sensitivitas pengukuran tegangan
c.       sensitivitas pengukuran tegangan dalam ΩΩ/V/V
d.      ketelitian dalam %
e.       angkauan frekuensi tegangan bolak bolak-balik
f.       yang mampu diukur (misalnya antara 20 Hz -30 KHz)
g.      batere yang diperlukan (Choinisah, 2013).
2.2. Sejarah Multitester
      Pengenalan pertama multimeter menjadi alat uji utama untuk semua insinyur listrik dan radio, membuatnya menjadi instrumen terbaik dari jenisnya di Inggris dari tahun 1923 sampai setidaknya tahun 1960. Karena mudah dibawa kemana-mana, memungkinkan pengukuran di tempat yang jauh dari laboratorium dengan akurasi yang menjadi norma bagi semua insinyur tapi diadopsi di fasilitas penelitian untuk setiap hari kerja karena memiliki fitur, ukuran yang ringkas.
Sebelumnya, instrumen ini masing-masing fungsinya memerlukan peralatan yang kompleks dan terpisah dimana tidak dapat terpisah dengan laboratorium. Ringkasnya, terdapat standar yang baru yang dapat dikontrol dan memiliki beragam perangkat modern yang berjalan pada tahun 1970-an dan seterusnya. Banyak insinyur masih memilikinya dan masih memanfaatkannya. Multimeter memainkan peran besar dalam keberhasilan teknologi bergantung pada akurasi dan dapat diandalkan dalam lingkungan apapun(Anonim,2011)
2.3. Jenis Multitester
Menurut (Renald, 2012) jenis multitester ada dua yaitu:
a.       Multitester Analog
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0Srjb7PFd6tCnjay_4e1nwqhf3ttUe73d1Cf2YUaTjWmPWSQwsAjoV0jJXhV6Tv6J83X4kDsZbdM4LMOQjLLDOazRLFYKl_hqL1BYxvGS_ZfTjImvPO_emsa58kYDVVfyNIHQxzC_7Pft/s1600/download.jpg
Multimeter analog lebih banyak dipakai untuk kegunaan sehari-hari, seperti para tukang servis TV atau komputer kebanyakan menggunakan jenis yang analog ini. Kelebihannya adalah mudah dalam pembacaannya dengantampilan yang lebih simple. Sedangkan kekurangannya adalah akurasinya rendah, jadi untuk pengukuran yang memerlukan ketelitian tinggi sebaiknya menggunakan multimeter digital.
b.      Multitester Digital
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPjLqIJENhjtAOrUcM41ejV9mmjKNwp9iPlsjIx29rcH8XXiWJ5GWeid_QVURRlO-I240v3lLFPx5-iey8M_lX4SdaZ7Kacm-OXf7LaFnEpDZxP0qfqQDCCv64l_6dtbSVzY-PKMdq1jpL/s1600/download+(1).jpg
Multimeter digital memiliki akurasi yang tinggi, dan kegunaan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan multimeter analog. Yaitu memiliki tambahan-tambahan satuan yang lebih teliti, dan juga opsi pengukuran yang lebih banyak, tidak terbatas pada ampere, volt, dan ohm saja. Multimeter digital biasanya dipakai pada penelitian atau kerja-kerja mengukur yang memerlukan kecermatan tinggi, tetapi sekarang ini banyak juga bengkel-bengkel komputer dan service center yang memakai multimeter digital.
Kekurangannya adalah susah untuk memonitor tegangan yang tidak stabil. Jadi bila melakukan pengukuran tegangan yang bergerak naik-turun, sebaiknya menggunakan multimeter analog.
2.4. Fungsi Multitester
Menurut (Choinisah, 2013) fungsi multitester yaitu:
a.       Alat ukur arus searah
Ammeter arus searah (DC ammeter) dipergunakan untuk mengukur arus searah. Alat ukur ini dapat berupa amperemeter, milliamperemeter dan galvanometer. Dalam mempergunakan ammeter arus searah perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
1)      Ammeter tidak boleh dipasang sejajar (paralel) dengan sumber daya
2)      Ammeter harus dipasang seri dengan rangkaian yang diukur arusnya
3)      Polaritas (tanda + dan -)
b.      Alat  ukur tegangan searah
Suatu alat ukur tegangan searah umumnya terdiri dari: meter dasar (Amperemeter) dan rangkaian tambahan untuk memperoleh hubungan antara tegangan searah yang diukur dengan arus searah yang mengalir melalui meter dasar. Meter dasar merupakan suatu alat yang bekerja (merupakan stator), dan suatu kumparan yang akan dilalui arus yang bebas bergerak dalam medan magnet tetap tersebut.
c.       Alat ukur tegangan bolak-balik
Pada dasarnya voltmeter bolak-balik terdiri dari: rangkaian penyearah, meter dasar (misalnya µA-meter searah) dan resistor seri.
d.      Alat ukur resistansi
Secara umum suatu rangkaian ohmmeter terdiri dari meter dasar berupa miliammeter/mikroammeter arus searah, beberapa buah resistor dan potensiometer serta suatu sumber tegangan searah/batere. Kita mengenal dua macam ohmmeter, yaitu ohmmeter seri dan ohmmeter paralel.
rangkaian dasar ohmmeter
Multimeter dapat juga dipergunakan untuk mengukurbesaran-besaran (atau sifat-sifat komponen) secara tidak langsung).
Beberapa contoh diantaranya adalah:
a.       mengukur polaritas dan baik buruknya dioda secara sederhana
b.      mengetahui baik buruknya transistor secara sederhana
c.       mengukur kapasitansi
d.      mengukur induktansi
Fungsi multimeter dengan kategori Digital Multimeter adalah sebagai berikut :
1.      Menguji dioda dengan tujuan untuk mendeteksi tingkat kerusakan akibat suatu hal yang tidak kita ketahui
2.      Menguji kondensator
3.      Menguji transformator
4.      Mengukur tegangan DC
5.      Mengukur arus DC
6.      Mengukur tegangan AC
7.      Pengecekan hubungan singkat
8.      Menguji transistor PNP
9.      Menguji kapasitor elektrolit
10.  Pengukur resistansi pada multimeter
11.  Penguji transistor NPN
Dan yang terakhir adalah Fungsi Multimeter Analog, multimeter jenis ini sangat mirip dengan digital multimeter, multimeter jenis ini biasa digunakan oleh kita pada umumnya karena lebih mudah membacanya karena memang multimeter jenis ini termasuk multimeter yang lebih simpel dan mudah. Tetapi bagi anda yang ingin meneliti sesuatu secara mendetail, disarankan menggunakan Digital Multimeter.

2.5. Modifikasi Multitester
Digital multimeter circuit diagram modifikasi digital multimeter circuit diagram biasanya banyak Sekali kita temukan diacara balap motor yang banyak diselenggrakan di Indonesia. diacara balap motor drag tersebut biasanya motor yang ikut dan alam kompetisi adalah motor-motor yg memang sudah dimodifikasi sehingga motor yang biasanya masih standar akan menjadimotor yang seakan tinggal tulangan motor Itu Saja. Selain itu jugabiasanya keepatan mesin motor yang standar akanberubah menjadi sangat cepat yang telah disetel oleh bengkel yang memang menangani motor itu sebelum mengikuti kontes balap.
Blue Point Multimeter Manual adalah salah satu dari beberapa contoh foto/gambar modifikasi dari topik yang telah kita bahas sebelumnya pada Modifikasi Kawasaki Kaze R yang terdapat pada situs termodifikasi.net. Termodifikasi.net adalah salah satu situs dari ratusan situs yang menyajikan berbagai contoh gaya modif kuda besi. Memperlihatkan berbagai foto dan gambar Blue Point Multimeter hasil modif motor dengan berbagai varian yang berbeda, sesuai aliran terbaru saat ini tahun 2015. Sobat bikers dapat dengan jelas melihat-lihat modifikasi Blue Point Multimeter Manual yang lain. koleksi gambar, foto, desain baru dan konsep gaya modifikasi motor baru yang inspiratif kami harap dapat membantu sobat bikers dalam memodif motor.
Selain gambar Blue Point Multimeter Manual, kamu juga dapat melihat koleksi gambar kami lainnya yang berhubungan dengan Blue Point Multimeter Manual. Kamu dapat dengan mudah meng klik pada gambar atau foto selain Blue Point Multimeter yang tersedia di bawah ini, atau kamu juga dapat dengan gampang kembali ke artikel bahasan sebelumnya Modifikasi Kawasaki Kaze R untuk mencari ide atau inspirasi baru lainnya. Kami harap gambar/ foto yang kami sediakan berikut bermanfaat dan dapat membantu kamu mendapatkan inspirasi baru terkait Blue Point Multimeter Manual untuk modifikasi motor kamu.

2.6. Bagian-Bagian Alat Multitester
Bagian Multimeter
a.       Papan Skala : digunakan untuk membaca hasil pengukuran. Pada papan skala terdapat skala-skala; tahanan/resistan (resistance) dalam satuan Ohm (Ω), tegangan (ACV dan DCV), kuat arus (DCmA), dan skala-skala lainnya.
b.      Saklar Jangkauan Ukur : digunakan untuk menentukan posisi kerja multimeter , dan batas ukur (range). Jika digunakan untuk mengukur nilai satuan tahanan (dalam W), saklar ditempatkan pada posisi W, demikian juga jika digunakan untuk mengukur tegangan (ACV-DCV), dan kuat arus (mA-mA). Satu hal yang perlu diingat, dalam mengukur tegangan listrik, posisi saklar harus berada pada batas ukur yang lebih tinggi dari tegangan yang akan diukur. Misal, tegangan yang akan diukur 220 ACV, saklar harus berada pada posisi batas ukur 250 ACV. Demikian juga jika hendak mengukur DCV.
c.       Sekrup Pengatur Posisi Jarum (preset) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol (sebelah kiri papan skala).
d.      Tombol Pengatur Jarum Pada Posisi Nol (Zero Adjustment) : digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol sebelum  multimeter  digunakan untuk mengukur nilai tahanan/resistan. Dalam praktek, kedua ujung kabel penyidik (probes) dipertemukan, tombol diputar untuk memosisikan jarum pada angka nol.
e.       Lubang Kabel Penyidik : tempat untuk menghubungkan kabel penyidik dengan Multimeter. Ditandai dengan tanda (+) atau out dan (-) atau common. Pada  multimeter  yang lebih lengkap terdapat juga lubang untuk mengukur hfe transistor (penguatan arus searah/DCmA oleh transistor berdasarkan fungsi dan jenisnya), dan lubang untuk mengukur kapasitas kapasitor.
f.       Posisi ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
g.      Posisi DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
h.      Posisi DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi sebagai mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 500.
i.        Terminal, berfungsi sebagai W(9) Lubang kutub + (V A tempat masuknya test lead kutub + yang berwarna merah.
j.        Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead kutub – yang berwarna hitam.
k.      Saklar pemilih polaritas (Polarity Selector Switch), berfungsi untuk memilih polaritas DC atau AC.
l.        Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-komponen multimeter.
m.    Jarum penunjuk meter (Knife – edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk besaran yang diukur.
n.      Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.


2.      OSILOSKOP
3.1. Pengertian  Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur Elektronik yang dapat memetakan atau memproyeksikan sinyal listrik dan frekuensi menjadi gambar grafik agar dapat dibaca dan mudah dipelajari. Dengan menggunakan Osiloskop, kita dapat mengamati dan menganalisa bentuk gelombang dari sinyal listrik atau frekuensi dalam suatu rangkaian Elektronika. Pada umumnya osiloskop dapat menampilkan grafik Dua Dimensi (2D) dengan waktu pada sumbu X dan tegangan pada sumbu Y(Faiks,2014).
3.2. Sejarah Osiloskop
Karl Ferdinand Braun (Fulda, 6 Juni 1850 – New York, 20 April 1918) adalah seorang fisikawan Jerman. Braun belajar di Universitas Marburg dan menerima gelar di Universitas Berlin pada tahun 1872. Ia menjadi direktur di Lembaga Fisika dan profesor fisika di Strasbourg (1895). Pada tahun 1897, ia membuat oskiloskop tabung sinar katoda pertama. Teknik ini digunakan oleh sebagian besar peralatan TV dan monitor komputer. Tabung katode masih disebut “tabung Braun” (Braunsche Röhre) di negara penutur bahasa Jerman (dan di Jepang: Buraun-kan). Pada tahun 1909 Braun menerima Penghargaan Nobel dalam Fisika dengan Guglielmo Marconi untuk “sumbangan pada pengembangan telegrafi nirkabel.” Pada awal Perang Dunia I Braun pindah ke Amerika Serikat untuk mempertahankan stasiun nirkabel Jerman yang terletak di Sayville (Long Island) terhadap serangan oleh Marconi Corporation yang dikendalikan Inggris (saat itu AS belum terjun dalam perang). Braun meninggal di rumahnya di Brooklyn sebelum perang berakhir, pada tahun 1918 (Rilo, 2014).


3.3. Jenis Osiloskop
Menurut (Fery,2015) berdasarkan jenisnya osiloskop di bagi menjadi 2 yaitu:
a.       Osiloskop Analog
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp-oIT_XJiwwVcDJyUxigqPt754HE7GxYySKSe50q-Fk0_D06TL-9qAzfwIxBW7VvvqDYJKfOSbC5ju7tTZwDr5lBK90Nh1_b9YLDgIt2tKr0JB09q1NcVGFngY0LWH_-Ff1d8HkhkR8E/s320/osiloskop.jpg
Osiloskop tipe waktu nyata analog (ART) menggambar bentuk-bentuk gelombang listrik dengan melalui gerakan pancaran electron (electron beam) dalam sebuah tabung sinar katoda (CRT – Cathode Ray Tube) dari kiri ke kanan. Pancaran electron dari bagian senapan electron (electron gun) yang membentur atau menumbuk dinding dalam tabung tersebut Mengeksitasi electron dalam lapisan fosfor pada layar tabung mengeksitasi electron dalam lapisan fosfor pada layar tabung sehingga terjadi perpendaran atau nyala pada layar yang menggambarkan bentuk dasar gelombang. Dalam perjalanannya dari senapan electron menuju layar yang berfosfor tadi, electron-elektron dipengaruhi oleh medan listrik dalam arah vertical (ke atas maupun ke bawah) oleh sepasang pelat pembelok (defleksi) vertical dan dalam arah horizontal oleh sepasang pelat defleksi horizontal. Apabila tegangan pada semua pelat tersebut nol Volt, electron akan berjalan lurus membentuk layar sehingga hanya terlihat sebuah bintik nyala di ditengah layar saja. Untuk “membuat” gambar garis pada layar, diperlukan gelombang gigi gergaji yang diberikan kepada pasangan pelat horizontal tersebut. Tegangan gigi gergaji ini dihasilkan oleh time base generator/sweep generator atau generator sapu, yang kemudian diperkuat oleh penguat horizontal. Tegangan gigi gergaji ini naik secara linier terhadap waktu sehingga berkas electron pada layar bergerak dari kiri ke kanan. Setelah sampai di bagian paling kanan layar, tegangan gigi gergaji turun dengan cepat ke nol sehingga memulai gerakan berulang dari bagian kiri layar. Gerakan balik yang cepat ini tidak dapat ditangkap oleh mata sehingga yang terlihat adalah gambar garis horizontal lurus pada layar yang tidak terputus. Agar osiloskop dapat menggambarkan bentuk gelombang yang sedang diamati maka gelombang tersebut diumpankan ke rangkaian vertical. Rangkaian vertical ini berfungsi memperkuat atau melemahkan simpangan vertical dari gelombang masukan, sehingga tegangan yan g diberikan ke pasangan pelat defleksi vertical menghasilkan medan listrik yang dapat mempengaruhi gerakan vertical electron secara proposional selagi ia bergerak menuju ke layar, yang berakibat bentuk gelombang pada layar dapat diperbesar atau diperkecil. Karena arah gerak electron berdasar vector medan listrik horizontal dan vertical, CRT nya disebut direcdt viev vector CRT.
Agar gambar pada layar dapat stabil, digunakan rangkaian picu (trigger). Jika suatu gelombang listrik dihubungkan ke ART, rangkaian picu akan memonitor gelombang masukan tersebut dan menunggu event – yakni saat terjadinya peristiwa atau kondisi yang dapat dipakai untuk pemicuan. Event picu ini berupa suatu sisi atau tebing gelombang yang memenuhi persyaratan yang telah didefinisikan atau ditentukan melalui suatu pilihan tombol pada panel depan osiloskop. Sekali event picu ini terjadi, osiloskop akan menstart generator sapu dan meragakan bentuk gelombang yang sedang diukur. Proses ini akan berulang sepanjang osiloskop tersebut dapat mendeteksi event-event picu. Selain menyangkut vertical dan horizontal, osiloskop analog mempunyai dimensi ketiga yang disebut dengan gray scaling (skala/tingkatan atau intensitas kelabu). Tingkatan kelabu ini diciptakan intensitas pancaran electron pada tabung gambar, yang meragakan detil gambar bagian tertentu secara sekilas saja. Kondisi ini terjadi karena kecepatan pancaran electron mempengaruhi kecerahan jejaknya. Makin cepat pancaran bergerak dari satu titik ke titik yang lain pada bagian tertentu, makin sedikit waktu ia dapat mengeksitasi electron-elektron pada fosfor yang terdapat pada dinding layar. Akibatnya jejak yang membentuk gambar gelombang abgian tersebut akan lebih redup daripada gambar bagian gelombang yang lainnya. .
Skala kelabu ini juga menunjukan frekuensi relative dari event-event individual (gejala khusus) yang terjadi dalam suatu gelombang yang sifatnya berulang (repetitif). Pancaran electron yang menggambarkan bagian gelombang yang bentuknya sama secara berulang akan menyebabkan bagian yang dapat tergambar dengan terang di layar, sedangkan event lekuk gelombang yang jarang terjadi akan mendapat lebih sedikit waktu eksitasi. Akhirnya menjadi jelas bahwa daerah dari lapisan fosfor yang dirangsang/dieksitasi secara berulang Nampak lebih terang daripada daerah yang kurang distimulasi.
b.      Osiloskop Digital.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhalI71XIZcDwmjLRzmCuyopqtdcJvnlV_ClBc3LCD2CwBHMk8B2r6GvyjBdFjAoS7ffi07LImhPo09i_7DgnBWu0IP-DS43LtRBp1qwoLf7TUr8WnWOCu43Srdf-hQ3TflP6hrgUeEqWE/s320/digital+osiloskop.jpg
Jika dalam osiloskop analog gelombang yang akan ditampilkan langsung diberikan ke rangkaian vertikal sehingga berkesan “diambil” begitu saja (real time), maka dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih dulu disampling (dicuplik) dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai tegangan ini bersama sama dengan skala waktu gelombangnya di memori. Pada prinsipnya, osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian banyak nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai dihentikan. .
DSO mempunyai dua cara untuk menangkap atau mencuplik gelombang, yakni dengan teknik single shot atau real time sampling. Dengan kedua teknik ini, osiloskop memperoleh semua cuplikan dengan satu event picu. Sayangnya laju cuplik DSO membatasi lebar pita osiloskop ketika beroperasi dalam waktu nyata (real time). Secara teori (sesuai dengan Nyquist samplinjg theorema), osiloskop digital membutuhkan masuka dengan sekurang-kurangnya dua cuplikan per periode gelombang untuk merekontruksi suatu bentuk gelombang. Dalam praktek, tiga atau lebih cuplikan per periode menjamin akurasi akuisisi. Jika pencuplik tidak dapat sama cepat dengan sinyal masukannya, osiloskop tidak akan dapat mengumpulkan suatu jumlah yang cukup berakibat menghasilkan suatu peragaan yang lain dari bentuk gelombang aslinya. Yakni osiloskop akan menggambarkan struktur keseluruhan sinyal masukan pada suatu frekuensi yang jauh lebih rendah dari frekuensi sinyal sesungguhnya. .
Kebanyakan DSO, apakah ia menggunakan teknik real time atau equivalent time akan mencuplik pada laju maksimum tanpa mengacu berapa dasar waktu (time base) yang dipilih. Pada kecepatan sapuan yang lebih rendah osiloskop digital menerima jauh lebih banyak cuplikan daripada yang dapat disimpannya. Tergantung pada model akuisisi yang kita pilih, suatu DSO akan membuang cuplikan ekstra atau menggunakannya untuk pemprosesan sinyal-sinyal tambahan seperti deteksi puncak gelombang (peak detect), maupun sampul gelombang (envelope).
3.4. Fungsi Osiloskop
Menurut (Faiks,2014).
1.      Untuk menyelidiki gejala yang bersifat periodik.
2.      Untuk melihat bentuk gelombang kotak dari tegangan
3.      Untuk menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika
4.      Dapat melihat amplitudo tegangan, periode, frekuensi dari sinyal yang tidak diketahui
5.      Untuk melihat harga-harga momen tegangan dalam bentuk sinus maupun bukan sinus
6.      Digunakan untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu, yang ditampilkan pada layar
7.      Mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
8.      Mengukur keadaan perubahan aliran (phase) dari sinyal input
9.      Mengukur Amlitudo Modulasi yang dihasilkan oleh pemancar radio dan generator  pembangkit sinyal
10.  Mengukur tegangan AC/DC dan menghitung frekuensi
3.5 Modifikasi Osiloskop
Bikin Osiloskop Menggunakan Laptop
aplikasi untuk menjadikan laptop / PC sebagai Osiloskop dengan bantuan beberapa komponen sebagai antarmuka (interface) nya.
Bahan yang diperlukan:
  • Resistor 22K ohm : 2 buah
  • Resistor 82K ohm : 2 buah
  • Potensiometer 50K Linear : 1 buah + Knop pemutarnya
  • Kabel Shield Stereo : 1 meter
  • Jack Stereo 3.5mm : 1 buah
  • Terminal Tester
           
 Keterangan skema:
  • Resistor 22K berfungsi sebagai batas pengaman tegangan yang masuk ke soundcard Laptop.
  • Potensiometer berfungsi sebagai penahan tegangan masuk, apabila tegangan yang digunakan lebih dari 5volt, maka potensiometer perlu di geser agar soundcard tidak rusak akibat kelebihan tegangan input.
  • Gunakan kabel audio terselubung (Shielded Wire) agar dapat terlindung dari sinyal / induksi dari sekitar kabel tersebut.

Rangkaian setelah disolder           Box kecil dipilih sebagai kemasan unit interface ini

  tampak bagian dalam setelah komponen dipasang..
            
                        
           
                 

               

Gunakan Laptop yang ada LINE-IN/MIC inputnya

Masukkan Jack Stereo ke LINE-IN/MI

            




APLIKASI OSILOSKOP
Aplikasi ini Trial-14hari, yang dapat di beli dengan harga tidak lebih dari seratus ribu rupiah ($9.95 USD).
    

Contoh noise dari charger/adaptor laptop.. Contoh sinyal dari charger handphone (sinyal gigi gergaji)

            

3.5 Bagian-Bagian Osiloskop
Menurut (Faiks, 2014) bagian-bagian osiloskop meliputi:
osiloskopASA
1.      Volt atau div : Untuk mengeluarkan tegangan AC.
2.      CH1 (Input X) : Untuk memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan posisi horisontal.
3.      AC-DC : Untuk memilih besaran yang diukur.
4.      Ground : Untuk memilih besaran yang diukur.
5.      Posisi Y : Untuk mengatur posisi garis atau tampilan dilayar atas bawah.
6.      Variabel : Untuk kalibrasi osciloskop.
7.      Selektor pilih : Untuk memilih Chanel yang diperlukan untuk pengukuran.
8.      Layar : Menampilkan bentuk gelombang.
9.      Inten : Mengatur cerah atau tidaknya sinar pada layar Osiloskop.
10.  Rotatin : Mengaur posisi garis pada layar.
11.  Fokus : Menajamkan garis pada layar.
12.  Position X : Mengatur posisi garis atau tampilan kiri dan kanan.
13.  Sweep time/ div : Digunakan untuk mengatur waktu periode (T) dan Frekwensi ( f ).
14.  Mode : untuk memilih mode yang ada.
15.  Variabel : Untuk kalibrasi waktu periode dan frekwensi.
16.  Level Menghentikan gerak tampilan layar.
17.  Exi Trigger : Untuk trigger dari luar.
18.  Power : untuk menghidupkan Osciloskop.
19.  Cal 0,5 Vp-p : Kalibrasi awal sebelum Osciloskop digunakan.
20.  Ground Osciloskop yang dihubungkan dengan ground yang diukur.
21.  CH2 ( input Y ): Untuk memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan Vertikal.





 .














                                   DAFTAR PUSTAKA
Cooper, D, William. 1985. Instrumentasi elektronik dan teknik pengukuran. Jakarta: Erlangga.
pada tanggal 30 maret 2016.

Pada tanggal 30 maret 2016












Tidak ada komentar:

Posting Komentar